Senin, 03 Desember 2018

Mengapa ada Penderitaan?

Pertanyaan tentang keberadaan penderitaan di dunia adalah pertanyaan sepanjang abad, yang tidak mudah untuk dijawab atau mungkin tidak memiliki jawaban pasti yang mampu diterima oleh setiap orang.
Keberadaan penderitaan itu sendiri akan memungkinkan seorang mempertanyakan imannya, apakah yang saya percayai benar? Apakah Tuhan ada? Bila ada, mengapa Tuhan diam terhadap penderitaan ini? dsb.

Pergumulan terhadap keberadaan penderitaan adalah perhatian serius bagi yang melihat atau tengah berada di dalamnya. Segala bentuk pemikiran diupayakan guna memperoleh jawaban "mengapa ada penderitaan? Mengapa harus terjadi? Dimana Allah?"

Di sini, filsafat mencoba memahami penderitaan sebagai bagian dari kodrat manusia.

Leibniz mengurai penderitaan sebagai hal baik di dunia. Ia menyampaikan bahwa "Dilihat dari keseluruhan, dunia yang ada penderitaannya adalah lebih baik daripada yang tidak ada penderitaannya."

Kalimat itu dapat diartikan tidak mungkin Allah menciptakan dunia tanpa adanya keburukan dan penderitaan, karena keburukan dan penderitaan berkaitan erat dengan keterbatasan dan ketidaksempurnaan manusia.

Di sini, keburukan manusia dipahami sebagai ketertinggalannya dari kebaikan, yang seharusnya dapat dicapainya.
Itu adalah hakekat keburukan manusia.

Keburukan adalah kebaikan yang tertinggal, yang seharusnya bisa dicapai oleh manusia.

Keburukan di sini dapat diterjemahkan sebagai potensi untuk menderita.

Semakin berkembang perasaan dan kesadaran dalam manusia, semakin besar pula potensinya untuk menderita.

Karena manusia memiliki kodrat "lemah, terbatas, mudah terluka, menjadi tua, dan mati." maka kemungkinan manusia untuk menderita merupakan kodrat (nature).

Allah tidak dapat membuat hal-hal yang pada diriNya bertentangan. Ia menciptakan alam dan manusia sebagaimana adanya (manusia dalam kodratnya; lemah, terbatas, mudah terluka, dsb).

Tetapi apakah Allah yang baik tidak dapat mencegah kemungkinan manusia untuk menderita?

Bila Allah setiap kali campur tangan, begitu ada anak kecil yang akan menyentuh air mendidih dan menghindarkannya dari situasi itu, Ia tidak membiarkan alam dan manusia berjalan menurut kodratnya, yang justru itu semua menunjukkan keagunganNya.

Allah tidak mencegah terjadinya keburukan, penderitaan, kejahatan, dan dosa yang mungkin terjadi di dalam manusia, bukan berarti bahwa Ia menghendakinya, melainkan Ia konsisten dalam kehendakNya menciptakan manusia seperti adanya.

Hegel menyatakan bahwa tanpa negativitas, segi-segi positif eksistensi tidak dapat memperoleh bobot yang sebenarnya. Kalau setiap puncak tinggi di bumi dapat tercapai dengan lift, maka tidak ada kepuasan mendalam bila kita mencapainya dengan pendakian berat dan berbahaya. Dengan lain kata, tanpa penderitaan, kehidupan manusia tidak akan berbobot. Tanpa penderitaan, tidak ada tanggung jawab, pengorbanan, kesetiaan, solidaritas, dsb.

Pertimbangan diatas membuat kita mengerti bahwa adanya keburukan dan penderitaan merupakan cara Allah berkehendak di dalam manusia.

Namun, apakah itu menjawab pertanyaan dari berbagai macam bentuk penderitaan di dunia yang ada?

Ini bukan hanya penderitaan pada umumnya, yakni berlakunya hukum alam "makan dan dimakan", melainkan penderitaan konkrit individual masing-masing manusia yang sedang dipertanyakan.

Dengan demikian penjelasan-penjelasan di atas gagal memberi ukuran dari bentuk-bentuk konkrit penderitaan di dunia.

Kalau kita tetap ingin mengerti tentang hal ini, maka kita harus mengambil jalur teologi yang tidak hanya berfokus pada keburukan atau penderitaan dalam kodrat manusia saja, melainkan juga dari kabaikannya.

Boethius (480 - 524) menanyakan hal penting,  "Apabila ada Allah, darimana hal-hal buruk? Tetapi darimana hal-hal baik, apabila tidak ada Allah?"

Ini berarti jika tidak ada Allah, tidak mungkin ada kebaikan.

Apa itu kebaikan? Kebaikan dimaksud adalah kebaikan hati yang disertai kebahagiaan, karena kebaikan apapun yang tidak mendukung kebahagiaan, bukanlah kebaikan.

Kebaikan yang membahagia ini hanya dimungkinkan melalui keberadaan Allah.

Ada beberapa kebaikan yang dapat kita pahami secara konkrit, yakni:

1. Kebaikan sosial, meliputi perhatian seseorang, sebuah pujian, kasih ibu, kasih terhadap kekasih, bantuan pada saat kita putus asa, dsb.

2. Kebaikan afektif, di dalam diri kita, berupa hati nurani. Hati nurani ini yang menggerakkan kita memilih yang baik, jujur, adil, setia, dst.

3. Kebaikan spiritual, menyatakan dalam keyakinannya bahwa hidup manusia mempunyai makna yang selalu menunjuk pada Allah.

Lalu, apa hubungan kebaikan dengan masalah penderitaan?

Bagian-bagian dari kebaikan di atas merupakan implementasi keberadaan Allah di dalam manusia, yang melampaui negativitas kodrat manusia.

Sekalipun kita tidak mengerti, namun segala penderitaan yang kita alami sudah dikalahkan oleh kebaikan Allah yang bebas dari kesalahan dan ketidakakuratan. Ini menjadi unsur dalam kebahagiaan kita.

Rasul Paulus mencatat dalam suratnya kepada jemaat Korintus perihal keberadaannya yang menderita, namun menerima kebaikan yang membahagia dari Allah yang mutlak dalam perkataanNya yang bebas dari kekeliruan dan ketidakakuratan ini.

"Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:7-9).

Apabila tidak ada kelemahan, apakah kuasa kebaikan Allah dapat dirasakan manusia?

Mengapa ada penderitaan?

Senin, 02 Juli 2018

Manusia Berguna

"Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya."

Dalam suatu percakapan ringan di kelompok kecil, seorang yang diketahui sebagai pemimpin kelompok itu membahas suatu tema tentang kehidupan.

Di tengah pembicaraan hangat itu, tiba-tiba salah satu dari mereka berkata, "Saya sudah berusaha keras memberi yang terbaik untuk tempatku bekerja, namun aku dicibir atas hasil yang telah kucapai. Saat itu aku seperti tidak berguna!". Belum selesai ia mengungkapkan perasaannya lebih dalam, seorang yang duduk di hadapannya pun menyela "Apalagi aku, sekian tahun aku berusaha menunjukkan prestasi kepada kedua orangtuaku, namun aku tidak merasa bahwa prestasiku bukan hal penting bagi mereka. Aku tidak berarti apa-apa!".

Pemimpin kelompok tersebut terdiam sambil menatap ke arah luar dari tempat mereka berkumpul, seakan sedang menyusun kata yang akan diucapkannya. Seisi ruang menjadi sunyi, menanti apa yang akan dikatakannya.

Lalu ia berkata,

Perasaan tak berguna itu tidak memandang umur dan datang tanpa diundang, dia merasuk jiwa manusia dan berkata terus menerus, "Engkau tak berguna, kau bukan siapa-siapa, mereka tidak membutuhkanmu!". Tanyakan pada pepohonan, "Apakah kau merasa dirimu berguna? Bukankah kau tidak berbuat apa-apa selain berada di situ selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun?" Dan pepohonan itu akan menjawab, "Aku tidak mencoba untuk berguna; aku mencoba untuk menjadi pepohonan."

Segala sesuatu mempunyai alasan untuk hidup. Di mata Tuhan, tak ada yang tak berguna. Seutas rambut dari kepalamu pun diperhitungkan-Nya. Jangan berusaha untuk berguna. Berusahalah untuk menjadi dirimu sendiri. Itu sudah cukup. Terkadang turut serta dalam suatu pengambilan keputusan dalam pekerjaan, keluarga, dan lainnya menjadi faktor penting dalam hidup. Tetapi terkadang dengan senyuman yang kau berikan tanpa alasan apapun kepada seseorang yang kebetulan sedang berpapasan denganmu di jalan. Tanpa sengaja, mungkin kau telah menyelamatkan nyawa orang itu, yang juga merasa tidak berguna dan bermaksud mengakhiri hidupnya. Namun, sekilas senyuman telah memberinya harapan hidup baru.

Ia mengakhiri perkataannya,

Ketahuilah, Tuhan memperhatikan dan menjaga manusia sebagai biji mata-Nya. Berguna!

Minggu, 01 Juli 2018

Suara dalam Kesunyian

Dalam hidup manusia suatu saat akan atau pernah berada di dalam ruang gelap. Sepi dan pekat terasa di telinga. Sesekali hanya mendengar nafas menghela. Situasi ini disebut kesunyian.

Kesunyian adalah keadaan manusia itu sendiri. Sejak lahir seorang bayi berada dalam rahim sang ibu, diam dan tenang, seakan tidak terganggu oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia bergerak dan bertumbuh dalam kesunyian.

Di tempat berbeda seorang seniman mendapat suatu karya melalui perjumpaannya dengan kesunyian. Ia berada di dalamnya dan menemukan apa yang diinginkannya.

Dalam kesunyian, manusia berjumpa dengan dirinya yang sebenarnya. Ia dapat menyadari siapa dirinya dan mengetahui apa yang harus dikerjakannya.

Kesunyian bukanlah situasi yang harus dihindari dan ditakuti. Ia hadir tidak untuk menghilangkan damai dan rasa aman. Ia hadir sebagaimana kita hadir di dalam dunia. Ia berada apa adanya. Ia pula dapat menyingkapkan diri kita sebenar-benarnya.

Dalam kesunyian, kita mendengar suara yang tidak terdengar dalam keriuhan sehari-hari. Suara yang mampu menghadirkan damai dan rasa aman di dalam batin. Suara, yang bagi seorang nabi, hanya ditemukan dalam keheningan.
Suara yang berbicara kepada manusia di dalam kesunyian dan manusia mendengarkan dan memperoleh apa yang dibutuhkannya.

Suara dalam kesunyian akan selalu terdengar di saat kesunyian itu sendiri mendapat tempat di tengah aktifitas manusia sehari-hari.

Dalam keterpurukan seorang manusia, suara dalam kesunyian akan berkata, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu! Akulah Tuhan, Allahmu."

Jumat, 29 Juni 2018

Mendengar vs Mendengarkan

Ada banyak orang dapat mendengar, namun hanya sedikit dapat mendengarkan.

Dalam komunikasi, terdapat dua unsur penting yang harus dipenuhi, yakni harus adanya pembicara (komunikator) dan pendengar (komunikan). Apapun gaya komunikasi yang diterapkan, monolog ataupun dialog perlu memenuhi dua unsur di atas.

Ada hal penting, selain terpenuhinya unsur di atas, yang perlu diterapkan yakni penyampaian dan penerimaan pesan. Mengapa ini penting? Di India, seorang pria yang merantau ke kota lain untuk mencari pekerjaan akhirnya meregang nyawa karena dihakimi massa. Diketahui bahwa ia adalah korban salah tangkap dari suatu aksi massa yang mendapat informasi tentang data seorang penculik anak.

Penyampaian dan penerimaan pesan adalah titik krusial dalam interaksi sosial. Salah digunakan maka hasilnya pun mengganggu nilai-nilai moral berkebangsaan. Berita terkait hoax merupakan penyampaian pesan yang salah. Namun, ini berdampak kepada nilai-nilai moral berkebangsaan ketika berita hoax tersaji terus menerus dalam keseharian kita.

Berita hoax (bohong) bila terus digaungkan setiap saat, lama kelamaan ia akan menjadi berita benar (fakta). Mengapa demikian? Karena adanya komunikan, penerima pesan. Di sinilah titik mula kemajuan dan kemunduran bangsa. Penerima pesan, bila tidak hati-hati, ia akhirnya akan salah menilai bahwa berita salah itu adalah benar adanya. Penerimaan pesan salah, hasilnya pun dapat diduga.

Bagi penerima pesan, informasi yang diterima haruslah dilihat dari dua nilai dasar terlebih dahulu, yakni nilai 'benar-salah' dan 'baik-buruk'.
Dengan mengikuti premis di bawah ini.
"Baik belum tentu benar, namun benar sudah pasti baik. Buruk belum tentu salah, namun salah sudah pasti buruk".

Dalam informasi terkait berita 'baru' atau informasi yang belum pernah didengar atau dibaca sebelumnya, baiklah melakukan tahap berpikir, "apakah ini berita baik? Apakah berita baik ini benar? Apakah ini berita buruk? Adakah yang salah dengan berita buruk ini?"

Terjadinya kericuhan dalam komunikasi karena banyaknya orang yang mendengar dan sedikit orang yang mendengarkan.
Karena kata 'mendengar' - 'to hear' bagi orang yang mendengar, tidak lebih dari penggunaan indera pendengaran saja tanpa melibatkan unsur-unsur lainnya. Sedangkan kata 'mendengarkan' - to listen' bagi orang yang mendengarkan, lebih dari sekedar penggunaan indera pendengaran saja. Mereka juga melibatkan unsur kognitif (analisis) dan afektif (hati nurani) dalam menangkap informasi yang diterima.

Dengan demikian, kemampuan mendengarkan adalah alat yang mumpuni menangkal propaganda berbentuk hoax yang mampu memecah belah nilai-nilai moral kebangsaan kita.

Oleh karena itu, pikirkanlah apa yang benar, mulia, adil, suci, dan patut dipuji bagi kepentingan bersama, maka niscaya damai surgawi akan meliputi hidup bermasyarakat kita.

Inilah saatnya!

Jumat, 01 Juni 2018

Pelanggaran

Beberapa hari lalu dihelat pertandingan sepakbola memperebutkan piala Liga Champions antara klub sepakbola Liverpool dan Real Madrid. Akhirnya, kemenangan diberikan kepada Real Madrid dengan skor 3 - 1.

Seperti diketahui dalam setiap permainan sepakbola pemain selalu berhadapan dengan situasi lapangan, yakni pemain akan berusaha melesakkan bola ke gawang melalui penguasaan bola. Pemain yang menguasai bola adalah ia yang menguasai pertandingan. Cara menguasai bola ini harus melalui perebutan bola.

Salah satu seni bermain bola, selain cara ia mencetak gol, adalah perebutan bola. Situasi ini memungkinkan pemain mengeluarkan trik atau teknik untuk memenangkan perebutan itu. Namun, di sinilah titik potensial terjadinya pelanggaran.

Dalam pertandingan Real Madrid dan Liverpool, pelanggaran sering terjadi di setiap babaknya. Namun itu harusnya menjadi suatu yang biasa dalam pertandingan.

Hal menarik sebenarnya bila pelanggaran itu bersifat kontroversi atau pelanggaran yang tidak bisa diterima oleh salah satu tim. Itu akan menjadi perbincangan berkesan di rumah, kantor, atau kedai kopi selama beberapa hari ke depan.

Namun ada yang jauh lebih menarik dari pertandingan Real Madrid kontra Liverpool ini, yakni momen perebutan bola antara Sergio Ramos dari Real Madrid dan Muhamed Salah dari Liverpool.

Diketahui bahwa Muhamed Salah mengalami cidera bahu dan tidak bisa melanjutkan permainan karena insiden perebutan bola tersebut. Situasi ini dilihat bukan pelanggaran kontroversional, yang menyebabkan protes keras dari tim Liverpool. Selanjutnya, permainan kembali seperti biasanya tanpa ada kegaduhan disebabkan insiden itu.

Ternyata kegaduhan dari insiden itu timbul di luar lapangan yang terjadi setelah beberapa hari pertandingan itu berakhir. Aksi protes kepada pemain Real Madrid, Sergio Ramos karena membuat Muhamed Salah cidera juga dilakukan.

Namun, kegaduhan itu bukan berasal dari kedua pendukung, pemain, atau official tim. Bukan pula dari negara Inggris, tempat Liverpool bermarkas, tapi dari Indonesia. Lah?

Beberapa media lokal di Indonesia memberitakan adanya aksi massa memprotes insiden itu dan kecaman bagi pendukung Real Madrid.

Uniknya, aksi protes dan kecaman itu bukan karena sistem perwasitan atau aturan dalam permainan, melainkan karena persoalan agama. What?

Di sini pembaca tidak akan menemukan alasan mengapa ranah keagamaan ada dalam pesepakbolaan. Karena memang tidak ada landasan aturan yang baku terkait isu ini alias semua boleh berpendapat sebebasnya.

Jelasnya persoalan ini terus menerus muncul di Indonesia seperti suatu diskursus filsafat yang membutuhkan waktu tak berbatas untuk menjawabnya.

Namun demikian, marilah kita membuat satu garis imajiner yang berisi nilai-nilai universal kemanusiaan di dalamnya dengan ungkapan "ketika ranah keagamaan yang bersifat kontemplatif dan pribadi itu berinteraksi dalam masyarakat sejatinya akan tercipta ketentraman". Nah, bila ditemukan adanya intimidasi dalam interaksi keagamaan di dalam masyarakat yang berpotensi mengganggu keharmonisan bermasyarakat, maka di situlah kita telah melanggar nilai-nilai universal kemanusiaan. Itu adalah sebuah pelanggaran.

Selasa, 29 Mei 2018

Apakah cinta itu?

Ketika membaca judul di atas, pembaca dimungkinkan akan terfokus kepada arti cinta. Bila demikian, baik adanya melihat pendapat salah seorang filsuf yang menyatakan bahwa cinta adalah sebuah 'kata kerja'. Ia tergambar memiliki daya dan bertujuan menjelaskan objek (sesuatu). Ia bermakna ketika bersama subjek (manusia). Namun tanpa subjek-objek pun dia tetaplah sebuah 'kata kerja' yang bergerak terlihat dalam setiap aktifitas hidup manusia; makan, minum, berjalan, membaca, berdiri, duduk, dsb.
Namun, definisi inipun masih sukar untuk menggambarkan cinta secara menyeluruh.

Hal ini serupa dengan gambaran manusia terhadap Tuhan. Selama ribuan tahun manusia berupaya menggambarkan Tuhan. Saat ini, lebih dari 4 agama atau sistem kepercayaan berbeda di dunia yang masing-masing menggambarkan Tuhan.

Dari sini kita melihat bahwa cinta dan Tuhan telah menjadi tema besar dari suatu usaha pencarian manusia terhadap hidup itu sendiri; mengapa saya ada? Untuk apa saya hidup? dst.

Namun ada satu landasan berpikir yang koheren tentang Tuhan dan cinta dalam kekristenan.

Dipahami bahwa cinta datang dari Tuhan. Melalui Yesus, Ia menyatakan cinta yang menyeluruh tersebut.

Salah satu bentuk cinta yang ditunjukkan oleh Yesus ketika ia memilih murid-muridNya.

Ia memilih kedua belas muridNya bukan karena mereka tidak memiliki kekurangan fisik dan mental, melainkan Yesus sedang menggambarkan sikap Tuhan mencintai manusia, yang beragam latar belakang keluarga, keyakinan, dsb.

Para muridNya itu kemudian menjadi sahabatNya. Persahabatan Yesus dengan murid-muridNya merupakan
gambaran cinta Tuhan kepada dunia (Yoh 3:16).

Lalu bagaimana cinta terlihat dalam kehidupan sehari-hari?
Ketika Yesus pernah menegur keras salah satu muridNya karena berbuat kesalahan, Ia pun berbelas kasihan kepada orang yang berkesusahan, bahkan memohon pengampunan atas orang-orang yang telah menyakitiNya pada saat Ia akan disalibkan Itulah cinta.

Sabtu, 26 Mei 2018

Sudut Pandang

Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
(Amsal 16:2 TB)

Ada suatu cerita mengenai sudut pandang. Cerita pertama tentang seseorang yang terdampar di suatu pulau dikarenakan kapalnya tenggelam akibat ombak besar. Pulau itu tak berpenghuni. Berhari-hari ia menunggu pertolongan datang. Dan pada suatu hari di kejauhan ia melihat sebuah perahu. Di atas perahu itu ada seseorang sedang melambaikan tangan kepadanya. Ia sangat senang dan berteriak dengan penuh semangat, "Perahu!".

Cerita kedua tentang seseorang yang selamat dari ombak besar dengan menggunakan sekoci kapal. Berhari-hari ia terombang ambing oleh gelombang laut, menanti datangnya bala bantuan menolongnya. Suatu hari ia melihat daratan. Bertambah senang hatinya karena ia melihat seseorang berdiri melambaikan tangan kepadanya. Iapun membalas lambaian tangannya dan berpikir pertolongan akhirnya datang juga. Dengan semangat ia berteriak, "Daratan!"

Kedua cerita di atas adalah satu cerita dengan dua sudut pandang berbeda.
Seseorang di daratan berpikir seseorang di atas perahu itu adalah penyelamatnya, sedangkan orang di perahu itu berpikir bahwa seseorang di daratan itu mampu menyelamatkannya.

Inti dari cerita itu sebenarnya ingin menekankan tentang sudut pandang. Ada dua sudut pandang pemecahan masalah dari persoalan yang sama. Dua orang dalam cerita di atas memiliki persoalan sama, yakni menanti pertolongan yang tak kunjung datang. Yang satu melihat perahu adalah pertolongan telah tiba, sedang yang lain melihat daratan adalah pertolongan yang dinantinya.

'Perahu' dan 'Daratan' adalah sudut pandang, dan 'menanti pertolongan yang tak kunjung datang' adalah persoalan. Persoalan sama, sudut pandang pemecahan masalah berbeda.

Dalam hidup seringkali kita berhadapan dengan konflik, baik dalam kelompok atau antar pribadi. Konflik umumnya berasal dari perbedaan sudut pandang dan antara satu dan lainnya saling mempertahan sudut pandangnya tersebut. Bila sudah demikian, apa yang harus dilakukan?

Pahamilah bahwa ada dua cara konflik terjadi pada diri manusia.

1. Expressive Response (reaksi yang meluap). Orang dengan jenis respon seperti ini sangat terbuka dengan lingkungan sekitar dan apapun yang dipikirkan dan rasakan mampu dikatakannya. Respon ini sarat dengan nilai-nilai kejujuran dan apa adanya. Di lain sisi, ia kurang memperhatikan lingkungan pendengarnya yang berbeda-beda sehingga potensi konflik terjadi di titik ini.

2. Repressive Response (reaksi menekan emosi). Kebalikan dengan jenis respon pertama. Jenis respon ini tidak menunjukkan sikap emosi berlebihan ketika menerima informasi. Sikap tenang dan kalem menjadi kunci jenis respon ini. Namun sejatinya pikiran dan emosi bergejolak di dalam dirinya dan menyebabkan konflik di dalam dirinya.

Bagaimana mengatasi bila konflik terjadi atau akan terjadi?
1. Observasi. Pikirkanlah siapa atau apa yang sedang berpikir. Diri kita atau "sesuatu yang lain"? (nafsu, egoisme, dll). Darimana datang emosi ini? (kecewa, sedih, atau tidak dihargai)
2.  Pengakuan. Akuilah siapa yang mengendalikan konflik ini? (saya, dia, atau Tuhan).

Karena sesungguhnya setiap sudut pandang baik adanya, namun pada akhirnya Tuhanlah yang menguji sudut pandang kita, apakah itu mendatangkan damai atau konflik.

Sabtu, 19 Mei 2018

Wind of Change

Sebagian pembaca mungkin pernah tahu judul lagu "Wind of Change" yang dipopulerkan oleh kelompok musik Scorpion di era 80an. Judul lagu itu sempat menduduki tangga teratas musik terpopuler di dunia.

Di dalam liriknya terlintas harapan besar suatu negara terhadap perubahan hidup bangsanya, di mana mereka dapat melihat bangsa-bangsa lain seperti saudara dan bukan musuh. Harapan perubahan ini tertuang dalam musik tersebut dan disambut oleh dunia selayaknya sebagai harapan seluruh masyarakat dunia pada umumnya.

Sejenak makna lagu "wind of change" (angin perubahan), mengungkapkan harapan adanya peralihan sistem bangsa tersebut ke arah yang lebih baik. Beberapa tahun kemudian harapan itu menjadi kenyataan.

Bagi Indonesia, angin perubahan sedang berhembus perlahan dan memberi kesejukan. Sayangnya, tidak semua kita merasakan hembusannya.

Jadi bagaimana kita merasakan angin perubahan di Indonesia? Di sini kita harus mengerti bahwa segala sesuatu selalu dimulai dari hal kecil dan sederhana. Dalam masyarakat, lingkup terkecil adalah individunya

Teringat kepada tokoh masa lalu yang nama dan perbuatannya tercatat dalam Alkitab. Ia bernama Nehemia. Ia adalah seorang Yahudi dan tinggal di Persia sebagai orang buangan. Ia bukanlah seorang nabi, imam, atau penguasa wilayah. Ia hanyalah seorang biasa yang bekerja sebagai juru minuman raja Persia. Ia mendengar bahwa bangsanya mengalami kesusahan dan memohon kepada raja agar ia diijinkan kembali ke kampung halamannya untuk membangun kotanya yang telah hancur karena perang. Menarik diketahui lebih lanjut adalah respon raja terhadapnya. Raja mengijinkan Nehemia kembali ke kampung halamannya bahkan menyetujui setiap permintaan juru minumannya itu.

Mengapa raja bertindak demikian kepada Nehemia? Ada 3 teladan yang saya pelajari dari Nehemia.
1. Tuhan menjadi prioritas penyampaian harapannya. Ia berdoa, berpuasa dan memohon pengampunan atas bangsanya yang tidak mengikuti perintah-perintah Tuhan.
2. Ia bekerja dan mampu menjadi seseorang yang dapat dipercaya/diandalkan. Pekerjaan seorang juru minum kerajaan pada waktu itu merupakan posisi yang penting karena berkaitan erat dengan hidup mati seorang raja. Sangatlah beresiko bila raja memilih seseorang yang tidak dia kenal atau percaya menjadi pegawai terdekatnya, yakni juru minum raja.
3. Nehemia memiliki kepedulian terhadap bangsanya yang bersedih karena kota mereka telah hancur. Di saat itu, Nehemia memohon kepada raja agar diijinkan untuk kembali ke kampung halamannya dan membangun kotanya. Dan raja mengijinkannya, bahkan memberikan material yang dibutuhkan untuk pembangunan kota itu.

Indonesia adalah bangsa besar dengan beragam suku dan agama di dalamnya. Tantangannya pun besar. Namun selalu ada harapan dalam suatu tantangan, karena harapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Oleh karenanya, tautkanlah harapan kepada Sang Pemberi Hidup agar Ia menghembuskan angin perubahan kepada bangsa Indonesia. Semua perubahan yang dibutuhkan oleh kita yang menginginkan Indonesia maju dan berkenan di hati Sang Pemberi Hidup.

Inilah saatnya.

"Listening to the wind of change"

Senin, 14 Mei 2018

Apakah Ketaatan Itu?

Persoalan manusia, menurut teori penciptaan di dalam kitab suci, berporos pada ketidaktaatan yang merupakan cikal bakal dosa. Konsep ini tersirat dalam cerita manusia pertama, dalam sejarah kitab suci, yang melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah yang dilarang untuk dimakan. Peristiwa tersebut mendatangkan murka Tuhan. Manusia berdosa di hadapan Tuhan dan 'terlempar' dari keberadaannya yang kekal.

Dalam situasi keberdosaan itu, manusia berusaha mencari Tuhan dengan segala cara yang dipahaminya.

Manusia berusaha menyembah Tuhan melalui kehidupan yang taat kepada ajaran dan aturan-aturanNya sebagai bentuk harapan sekaligus tujuan akhir dalam mencapai kekekalannya kembali bersama Tuhan.

Dengan kata lain, manusia menaati ajaran dan aturan-aturan Tuhan untuk memperoleh kehidupan kekal.

Darimana mengetahui seperti apa ajaran dan aturan-aturan Tuhan? Tentunya kita mengatakan, "dari kitab suci!".

Sampai di sini kita dapat menerima bahwa kitab suci memuat ajaran dan aturan-aturan Tuhan. Amin.

Namun persoalan akan timbul ketika manusia melihat ajaran dan aturan-aturan Tuhan dalam kitab suci sebagai karya tulisan tanganNya sendiri. Kitab yang langsung diberikan oleh Tuhan melalui utusanNya sehingga manusia harus taat secara total kepada Tuhan, utusanNya dan kitab suci tersebut tanpa perlu pengertian mendalam darinya.

Taat secara total di sini disebut ketaatan buta. Dalam artian ketaatan tanpa perlu berpikir kritis terhadap perintah yang diterimanya. Ketaatan seperti ini adalah ketaatan seorang budak kepada majikannya. Ketaatan ini berjalan tanpa pemikiran mendalam. Taat saja!

Sesungguhnya, ketaatan ini disebabkan oleh kesalahan berpikir logis, yang berujung kepada tindakan yang salah namun dianggapnya sebagai tindakan yang benar.

Manusia taat tanpa perlu pengertian mendalam terhadap tulisan-tulisan di kitab suci adalah manusia yang telah terjebak dalam pengabaian terhadap akal budi sebagai pemberian Tuhan.

Marilah renungkan pertanyaan ini.
Apakah ketaatan tanpa pengertian yang Tuhan kehendaki?
Mengapa kita diberikanNya akal bila IA menginginkan hanya ketaatan?

Apakah ketaatan itu?

Minggu, 13 Mei 2018

Bersatu Lawan Terorisme

Siapa yang tidak tersentak hati dan pikirannya ketika mendengar berita di pagi hari tentang aksi pemboman 3 gereja di surabaya yang menelan korban jiwa.

Setiap individu sesungguhnya akan merasakan kesedihan dan kegeraman yang timbul tenggelam dalam pergantian menit ketika melihat tayangan berita di televisi atau media elektronik lainnya menyatakan tragedi tersebut telah merenggut nyawa pria, wanita, anak, dan orangtua saat tengah menjalankan niat beribadah di hari minggu.

Namun demikian, ternyata tidak semua individu mengalami perasaan yang sama, sekalipun mereka mengetahui tragedi itu. Life goes on!

Namun, biarlah...

Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Setiap individu memiliki cara dalam mengatasi persoalan yang ada. Namun bagiku, tragedi ini telah memberi pelajaran berarti yakni tragedi ini mampu memperlihatkan siapa kita sebenarnya di dalam keseharian.

Para anggota Polisi yang sibuk melakukan penjagaan guna mengantisipasi aksi lanjutan membuatku mengerti arti dari tanggungjawab.

Sebagian warga rela mengantri untuk mendonorkan darahnya bagi para korban mengajarku arti kebersamaan sejati.

Oleh karena itu, bagiku tanggung jawab dan kebersamaan sesungguhnya adalah kunci melawan tragedi ini.

Tanggung jawab kita adalah mempertahankan kedaulatan Pancasila bersama-sama tanpa membedakan suku, ras, dan agama.

Tanggung jawab kita adalah 'Bersatu Lawan Terorisme' bersama-sama.

Rabu, 09 Mei 2018

Kami Bersama POLRI

Saat ini, di tengah persiapan pemilihan Presiden Indonesia, kita menerima berita yang menyedihkan sekaligus menggeramkan karena munculnya kembali aksi terorisme yang telah merenggut nyawa para prajurit-prajurit Kepolisian dan satu tahanan. Kejadian tersebut dapat dikatakan bentuk terorisme baru karena terjadi di dalam penjara. Para tahanan, yang sebagian besar merupakan tahanan terorisme, menyandera para prajurit-prajurit Kepolisian bahkan membunuhnya. Kejadian ini merupakan peristiwa vandalism dan menambah catatan sejarah buruk terorisme di Indonesia.

Di lain sisi, institusi keamanan negara bernama Kepolisian Republik Indonesia telah berperan sangat baik dalam mencegah dan mengatasi para pelaku terorisme. Hingga saat ini, ketangguhan mereka telah mengakhiri drama penyanderaan dan penguasaan di dalam penjara oleh para pelaku teroris. Ketangguhan mereka akan terus teruji dan itu akan membuat mereka semakin tangguh.

Majulah Kepolisian Republik Indonesia

#KamiBersamaPOLRI

Post Fact

Pada awal bulan April, di bagian dunia barat, ada suatu tradisi bernama April Mop atau April Fools Day yang diperingati setiap tanggal 1 April. Itu adalah suatu hari ketika orang dianggap sah berbohong.

Pada peringatan itu, negara kita dianggap 'termakan' isu April mop. Kenapa bisa begitu? Hal itu bermula dari adanya perubahan nama bandara udara di Pakistan, Islamabad International Airport yang berganti nama menjadi Xi Jinping Airport. Dikatakan bahwa Presiden Indonesia, Joko Widodo menyampaikan berita itu dan diteruskan oleh menterinya untuk memberikan informasi bahwa kepengurusan bandara di Indonesia diserahkan kepada pihak swasta terkait hal perubahan nama bandara di Pakistan itu.

Berita itu kemudian menjadi viral dan bahan olok-olok pihak oposisi pemerintah.

Mendengar itu, menyadarkan saya bahwa berita yang viral menjadi bahan yang menarik untuk diketahui orang banyak. Sekalipun berita itu belum tentu benar adanya (hoax).

Fakta di lapangan sudah bukan menjadi bahan yang penting untuk diketahui selama berita itu menguntungkan pihak lain.

Nilai-nilai kebenaran menjadi hal yang tidak menyenangkan lagi untuk disampaikan kepada sesama.

Inilah jaman ketika 'fact' harus berhadapan dengan jaman yang disebut 'post-fact'. Jaman ketika fakta berubah menjadi suatu kebohongan.

Lalu bagaimana menghadapinya. Mudah. Mulailah dengan membangun pemikiran yang kritis, yang mempertanyakan sesuatu yang belum kita yakini 100%.

Pikirkanlah hal yang baik dan sedap didengar terlebih dulu. Ketika informasi yang dianggap 'kontroversial' bagi intuisi kita, pertanyakanlah informasi itu dan mulailah mencari kebenarannya.

Senin, 07 Mei 2018

Apa itu Pemimpin?

Pernahkan kita mengikuti upacara bendera di sekolah? Tentunya kita menemukan sekelompok barisan anak-anak dan para guru memenuhi halaman sekolah. Mereka berbaris menurut kelas masing-masing. Para guru berada di tempat yang berbeda, mengikuti proses uparacara tersebut.

Hal menarik adalah petugas upacara dilakukan oleh murid-murid pilihan. Mereka mengenakan seragam upacara yang tentunya berbeda dari peserta upacara yang berbaris di sisi yang berbeda. Ada yang membacakan teks, membawa bendera, paduan suara, dan sebagainya.

Bagaimana mereka bisa menjadi pilihan. Pertanyaan yang mudah dijawab? Karena mereka 'menonjol' di kelas. 'Menonjol'? Iya. Nilai-nilai mata pelajaran bagus, sikap dan perilaku yang senang membantu, aktif dalam berdiskusi, dan sebagainya.

Ooo... berarti menjadi pemimpin itu harus bisa memenuhi kriteria di atas. Pintar, sopan, dan aktif bersosialisasi. Hal itu menjadi prioritas dalam pemilihan seorang pemimpin.
Jadi menjadi seorang pemimpin itu tidak gampang dan butuh kerja keras. Intelligence Quotient (kecerdasan otak) dan Emotional Quotient (kecerdasan emosi) haruslah di atas standar atau ekspetasi jika ingin memiliki pemimpin yang luar biasa.

Bila berdasarkan pernyataan di atas, apakah bisa diasumsikan bahwa seorang yang tidak memiliki kriteria tersebut tidak akan menjadi seorang pemimpin?

Hmm, apa itu pemimpin?