Selasa, 29 Mei 2018

Apakah cinta itu?

Ketika membaca judul di atas, pembaca dimungkinkan akan terfokus kepada arti cinta. Bila demikian, baik adanya melihat pendapat salah seorang filsuf yang menyatakan bahwa cinta adalah sebuah 'kata kerja'. Ia tergambar memiliki daya dan bertujuan menjelaskan objek (sesuatu). Ia bermakna ketika bersama subjek (manusia). Namun tanpa subjek-objek pun dia tetaplah sebuah 'kata kerja' yang bergerak terlihat dalam setiap aktifitas hidup manusia; makan, minum, berjalan, membaca, berdiri, duduk, dsb.
Namun, definisi inipun masih sukar untuk menggambarkan cinta secara menyeluruh.

Hal ini serupa dengan gambaran manusia terhadap Tuhan. Selama ribuan tahun manusia berupaya menggambarkan Tuhan. Saat ini, lebih dari 4 agama atau sistem kepercayaan berbeda di dunia yang masing-masing menggambarkan Tuhan.

Dari sini kita melihat bahwa cinta dan Tuhan telah menjadi tema besar dari suatu usaha pencarian manusia terhadap hidup itu sendiri; mengapa saya ada? Untuk apa saya hidup? dst.

Namun ada satu landasan berpikir yang koheren tentang Tuhan dan cinta dalam kekristenan.

Dipahami bahwa cinta datang dari Tuhan. Melalui Yesus, Ia menyatakan cinta yang menyeluruh tersebut.

Salah satu bentuk cinta yang ditunjukkan oleh Yesus ketika ia memilih murid-muridNya.

Ia memilih kedua belas muridNya bukan karena mereka tidak memiliki kekurangan fisik dan mental, melainkan Yesus sedang menggambarkan sikap Tuhan mencintai manusia, yang beragam latar belakang keluarga, keyakinan, dsb.

Para muridNya itu kemudian menjadi sahabatNya. Persahabatan Yesus dengan murid-muridNya merupakan
gambaran cinta Tuhan kepada dunia (Yoh 3:16).

Lalu bagaimana cinta terlihat dalam kehidupan sehari-hari?
Ketika Yesus pernah menegur keras salah satu muridNya karena berbuat kesalahan, Ia pun berbelas kasihan kepada orang yang berkesusahan, bahkan memohon pengampunan atas orang-orang yang telah menyakitiNya pada saat Ia akan disalibkan Itulah cinta.