Senin, 14 Mei 2018

Apakah Ketaatan Itu?

Persoalan manusia, menurut teori penciptaan di dalam kitab suci, berporos pada ketidaktaatan yang merupakan cikal bakal dosa. Konsep ini tersirat dalam cerita manusia pertama, dalam sejarah kitab suci, yang melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah yang dilarang untuk dimakan. Peristiwa tersebut mendatangkan murka Tuhan. Manusia berdosa di hadapan Tuhan dan 'terlempar' dari keberadaannya yang kekal.

Dalam situasi keberdosaan itu, manusia berusaha mencari Tuhan dengan segala cara yang dipahaminya.

Manusia berusaha menyembah Tuhan melalui kehidupan yang taat kepada ajaran dan aturan-aturanNya sebagai bentuk harapan sekaligus tujuan akhir dalam mencapai kekekalannya kembali bersama Tuhan.

Dengan kata lain, manusia menaati ajaran dan aturan-aturan Tuhan untuk memperoleh kehidupan kekal.

Darimana mengetahui seperti apa ajaran dan aturan-aturan Tuhan? Tentunya kita mengatakan, "dari kitab suci!".

Sampai di sini kita dapat menerima bahwa kitab suci memuat ajaran dan aturan-aturan Tuhan. Amin.

Namun persoalan akan timbul ketika manusia melihat ajaran dan aturan-aturan Tuhan dalam kitab suci sebagai karya tulisan tanganNya sendiri. Kitab yang langsung diberikan oleh Tuhan melalui utusanNya sehingga manusia harus taat secara total kepada Tuhan, utusanNya dan kitab suci tersebut tanpa perlu pengertian mendalam darinya.

Taat secara total di sini disebut ketaatan buta. Dalam artian ketaatan tanpa perlu berpikir kritis terhadap perintah yang diterimanya. Ketaatan seperti ini adalah ketaatan seorang budak kepada majikannya. Ketaatan ini berjalan tanpa pemikiran mendalam. Taat saja!

Sesungguhnya, ketaatan ini disebabkan oleh kesalahan berpikir logis, yang berujung kepada tindakan yang salah namun dianggapnya sebagai tindakan yang benar.

Manusia taat tanpa perlu pengertian mendalam terhadap tulisan-tulisan di kitab suci adalah manusia yang telah terjebak dalam pengabaian terhadap akal budi sebagai pemberian Tuhan.

Marilah renungkan pertanyaan ini.
Apakah ketaatan tanpa pengertian yang Tuhan kehendaki?
Mengapa kita diberikanNya akal bila IA menginginkan hanya ketaatan?

Apakah ketaatan itu?