Sabtu, 26 Mei 2018

Sudut Pandang

Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
(Amsal 16:2 TB)

Ada suatu cerita mengenai sudut pandang. Cerita pertama tentang seseorang yang terdampar di suatu pulau dikarenakan kapalnya tenggelam akibat ombak besar. Pulau itu tak berpenghuni. Berhari-hari ia menunggu pertolongan datang. Dan pada suatu hari di kejauhan ia melihat sebuah perahu. Di atas perahu itu ada seseorang sedang melambaikan tangan kepadanya. Ia sangat senang dan berteriak dengan penuh semangat, "Perahu!".

Cerita kedua tentang seseorang yang selamat dari ombak besar dengan menggunakan sekoci kapal. Berhari-hari ia terombang ambing oleh gelombang laut, menanti datangnya bala bantuan menolongnya. Suatu hari ia melihat daratan. Bertambah senang hatinya karena ia melihat seseorang berdiri melambaikan tangan kepadanya. Iapun membalas lambaian tangannya dan berpikir pertolongan akhirnya datang juga. Dengan semangat ia berteriak, "Daratan!"

Kedua cerita di atas adalah satu cerita dengan dua sudut pandang berbeda.
Seseorang di daratan berpikir seseorang di atas perahu itu adalah penyelamatnya, sedangkan orang di perahu itu berpikir bahwa seseorang di daratan itu mampu menyelamatkannya.

Inti dari cerita itu sebenarnya ingin menekankan tentang sudut pandang. Ada dua sudut pandang pemecahan masalah dari persoalan yang sama. Dua orang dalam cerita di atas memiliki persoalan sama, yakni menanti pertolongan yang tak kunjung datang. Yang satu melihat perahu adalah pertolongan telah tiba, sedang yang lain melihat daratan adalah pertolongan yang dinantinya.

'Perahu' dan 'Daratan' adalah sudut pandang, dan 'menanti pertolongan yang tak kunjung datang' adalah persoalan. Persoalan sama, sudut pandang pemecahan masalah berbeda.

Dalam hidup seringkali kita berhadapan dengan konflik, baik dalam kelompok atau antar pribadi. Konflik umumnya berasal dari perbedaan sudut pandang dan antara satu dan lainnya saling mempertahan sudut pandangnya tersebut. Bila sudah demikian, apa yang harus dilakukan?

Pahamilah bahwa ada dua cara konflik terjadi pada diri manusia.

1. Expressive Response (reaksi yang meluap). Orang dengan jenis respon seperti ini sangat terbuka dengan lingkungan sekitar dan apapun yang dipikirkan dan rasakan mampu dikatakannya. Respon ini sarat dengan nilai-nilai kejujuran dan apa adanya. Di lain sisi, ia kurang memperhatikan lingkungan pendengarnya yang berbeda-beda sehingga potensi konflik terjadi di titik ini.

2. Repressive Response (reaksi menekan emosi). Kebalikan dengan jenis respon pertama. Jenis respon ini tidak menunjukkan sikap emosi berlebihan ketika menerima informasi. Sikap tenang dan kalem menjadi kunci jenis respon ini. Namun sejatinya pikiran dan emosi bergejolak di dalam dirinya dan menyebabkan konflik di dalam dirinya.

Bagaimana mengatasi bila konflik terjadi atau akan terjadi?
1. Observasi. Pikirkanlah siapa atau apa yang sedang berpikir. Diri kita atau "sesuatu yang lain"? (nafsu, egoisme, dll). Darimana datang emosi ini? (kecewa, sedih, atau tidak dihargai)
2.  Pengakuan. Akuilah siapa yang mengendalikan konflik ini? (saya, dia, atau Tuhan).

Karena sesungguhnya setiap sudut pandang baik adanya, namun pada akhirnya Tuhanlah yang menguji sudut pandang kita, apakah itu mendatangkan damai atau konflik.