Jumat, 29 Juni 2018

Mendengar vs Mendengarkan

Ada banyak orang dapat mendengar, namun hanya sedikit dapat mendengarkan.

Dalam komunikasi, terdapat dua unsur penting yang harus dipenuhi, yakni harus adanya pembicara (komunikator) dan pendengar (komunikan). Apapun gaya komunikasi yang diterapkan, monolog ataupun dialog perlu memenuhi dua unsur di atas.

Ada hal penting, selain terpenuhinya unsur di atas, yang perlu diterapkan yakni penyampaian dan penerimaan pesan. Mengapa ini penting? Di India, seorang pria yang merantau ke kota lain untuk mencari pekerjaan akhirnya meregang nyawa karena dihakimi massa. Diketahui bahwa ia adalah korban salah tangkap dari suatu aksi massa yang mendapat informasi tentang data seorang penculik anak.

Penyampaian dan penerimaan pesan adalah titik krusial dalam interaksi sosial. Salah digunakan maka hasilnya pun mengganggu nilai-nilai moral berkebangsaan. Berita terkait hoax merupakan penyampaian pesan yang salah. Namun, ini berdampak kepada nilai-nilai moral berkebangsaan ketika berita hoax tersaji terus menerus dalam keseharian kita.

Berita hoax (bohong) bila terus digaungkan setiap saat, lama kelamaan ia akan menjadi berita benar (fakta). Mengapa demikian? Karena adanya komunikan, penerima pesan. Di sinilah titik mula kemajuan dan kemunduran bangsa. Penerima pesan, bila tidak hati-hati, ia akhirnya akan salah menilai bahwa berita salah itu adalah benar adanya. Penerimaan pesan salah, hasilnya pun dapat diduga.

Bagi penerima pesan, informasi yang diterima haruslah dilihat dari dua nilai dasar terlebih dahulu, yakni nilai 'benar-salah' dan 'baik-buruk'.
Dengan mengikuti premis di bawah ini.
"Baik belum tentu benar, namun benar sudah pasti baik. Buruk belum tentu salah, namun salah sudah pasti buruk".

Dalam informasi terkait berita 'baru' atau informasi yang belum pernah didengar atau dibaca sebelumnya, baiklah melakukan tahap berpikir, "apakah ini berita baik? Apakah berita baik ini benar? Apakah ini berita buruk? Adakah yang salah dengan berita buruk ini?"

Terjadinya kericuhan dalam komunikasi karena banyaknya orang yang mendengar dan sedikit orang yang mendengarkan.
Karena kata 'mendengar' - 'to hear' bagi orang yang mendengar, tidak lebih dari penggunaan indera pendengaran saja tanpa melibatkan unsur-unsur lainnya. Sedangkan kata 'mendengarkan' - to listen' bagi orang yang mendengarkan, lebih dari sekedar penggunaan indera pendengaran saja. Mereka juga melibatkan unsur kognitif (analisis) dan afektif (hati nurani) dalam menangkap informasi yang diterima.

Dengan demikian, kemampuan mendengarkan adalah alat yang mumpuni menangkal propaganda berbentuk hoax yang mampu memecah belah nilai-nilai moral kebangsaan kita.

Oleh karena itu, pikirkanlah apa yang benar, mulia, adil, suci, dan patut dipuji bagi kepentingan bersama, maka niscaya damai surgawi akan meliputi hidup bermasyarakat kita.

Inilah saatnya!

Jumat, 01 Juni 2018

Pelanggaran

Beberapa hari lalu dihelat pertandingan sepakbola memperebutkan piala Liga Champions antara klub sepakbola Liverpool dan Real Madrid. Akhirnya, kemenangan diberikan kepada Real Madrid dengan skor 3 - 1.

Seperti diketahui dalam setiap permainan sepakbola pemain selalu berhadapan dengan situasi lapangan, yakni pemain akan berusaha melesakkan bola ke gawang melalui penguasaan bola. Pemain yang menguasai bola adalah ia yang menguasai pertandingan. Cara menguasai bola ini harus melalui perebutan bola.

Salah satu seni bermain bola, selain cara ia mencetak gol, adalah perebutan bola. Situasi ini memungkinkan pemain mengeluarkan trik atau teknik untuk memenangkan perebutan itu. Namun, di sinilah titik potensial terjadinya pelanggaran.

Dalam pertandingan Real Madrid dan Liverpool, pelanggaran sering terjadi di setiap babaknya. Namun itu harusnya menjadi suatu yang biasa dalam pertandingan.

Hal menarik sebenarnya bila pelanggaran itu bersifat kontroversi atau pelanggaran yang tidak bisa diterima oleh salah satu tim. Itu akan menjadi perbincangan berkesan di rumah, kantor, atau kedai kopi selama beberapa hari ke depan.

Namun ada yang jauh lebih menarik dari pertandingan Real Madrid kontra Liverpool ini, yakni momen perebutan bola antara Sergio Ramos dari Real Madrid dan Muhamed Salah dari Liverpool.

Diketahui bahwa Muhamed Salah mengalami cidera bahu dan tidak bisa melanjutkan permainan karena insiden perebutan bola tersebut. Situasi ini dilihat bukan pelanggaran kontroversional, yang menyebabkan protes keras dari tim Liverpool. Selanjutnya, permainan kembali seperti biasanya tanpa ada kegaduhan disebabkan insiden itu.

Ternyata kegaduhan dari insiden itu timbul di luar lapangan yang terjadi setelah beberapa hari pertandingan itu berakhir. Aksi protes kepada pemain Real Madrid, Sergio Ramos karena membuat Muhamed Salah cidera juga dilakukan.

Namun, kegaduhan itu bukan berasal dari kedua pendukung, pemain, atau official tim. Bukan pula dari negara Inggris, tempat Liverpool bermarkas, tapi dari Indonesia. Lah?

Beberapa media lokal di Indonesia memberitakan adanya aksi massa memprotes insiden itu dan kecaman bagi pendukung Real Madrid.

Uniknya, aksi protes dan kecaman itu bukan karena sistem perwasitan atau aturan dalam permainan, melainkan karena persoalan agama. What?

Di sini pembaca tidak akan menemukan alasan mengapa ranah keagamaan ada dalam pesepakbolaan. Karena memang tidak ada landasan aturan yang baku terkait isu ini alias semua boleh berpendapat sebebasnya.

Jelasnya persoalan ini terus menerus muncul di Indonesia seperti suatu diskursus filsafat yang membutuhkan waktu tak berbatas untuk menjawabnya.

Namun demikian, marilah kita membuat satu garis imajiner yang berisi nilai-nilai universal kemanusiaan di dalamnya dengan ungkapan "ketika ranah keagamaan yang bersifat kontemplatif dan pribadi itu berinteraksi dalam masyarakat sejatinya akan tercipta ketentraman". Nah, bila ditemukan adanya intimidasi dalam interaksi keagamaan di dalam masyarakat yang berpotensi mengganggu keharmonisan bermasyarakat, maka di situlah kita telah melanggar nilai-nilai universal kemanusiaan. Itu adalah sebuah pelanggaran.