Jumat, 01 Juni 2018

Pelanggaran

Beberapa hari lalu dihelat pertandingan sepakbola memperebutkan piala Liga Champions antara klub sepakbola Liverpool dan Real Madrid. Akhirnya, kemenangan diberikan kepada Real Madrid dengan skor 3 - 1.

Seperti diketahui dalam setiap permainan sepakbola pemain selalu berhadapan dengan situasi lapangan, yakni pemain akan berusaha melesakkan bola ke gawang melalui penguasaan bola. Pemain yang menguasai bola adalah ia yang menguasai pertandingan. Cara menguasai bola ini harus melalui perebutan bola.

Salah satu seni bermain bola, selain cara ia mencetak gol, adalah perebutan bola. Situasi ini memungkinkan pemain mengeluarkan trik atau teknik untuk memenangkan perebutan itu. Namun, di sinilah titik potensial terjadinya pelanggaran.

Dalam pertandingan Real Madrid dan Liverpool, pelanggaran sering terjadi di setiap babaknya. Namun itu harusnya menjadi suatu yang biasa dalam pertandingan.

Hal menarik sebenarnya bila pelanggaran itu bersifat kontroversi atau pelanggaran yang tidak bisa diterima oleh salah satu tim. Itu akan menjadi perbincangan berkesan di rumah, kantor, atau kedai kopi selama beberapa hari ke depan.

Namun ada yang jauh lebih menarik dari pertandingan Real Madrid kontra Liverpool ini, yakni momen perebutan bola antara Sergio Ramos dari Real Madrid dan Muhamed Salah dari Liverpool.

Diketahui bahwa Muhamed Salah mengalami cidera bahu dan tidak bisa melanjutkan permainan karena insiden perebutan bola tersebut. Situasi ini dilihat bukan pelanggaran kontroversional, yang menyebabkan protes keras dari tim Liverpool. Selanjutnya, permainan kembali seperti biasanya tanpa ada kegaduhan disebabkan insiden itu.

Ternyata kegaduhan dari insiden itu timbul di luar lapangan yang terjadi setelah beberapa hari pertandingan itu berakhir. Aksi protes kepada pemain Real Madrid, Sergio Ramos karena membuat Muhamed Salah cidera juga dilakukan.

Namun, kegaduhan itu bukan berasal dari kedua pendukung, pemain, atau official tim. Bukan pula dari negara Inggris, tempat Liverpool bermarkas, tapi dari Indonesia. Lah?

Beberapa media lokal di Indonesia memberitakan adanya aksi massa memprotes insiden itu dan kecaman bagi pendukung Real Madrid.

Uniknya, aksi protes dan kecaman itu bukan karena sistem perwasitan atau aturan dalam permainan, melainkan karena persoalan agama. What?

Di sini pembaca tidak akan menemukan alasan mengapa ranah keagamaan ada dalam pesepakbolaan. Karena memang tidak ada landasan aturan yang baku terkait isu ini alias semua boleh berpendapat sebebasnya.

Jelasnya persoalan ini terus menerus muncul di Indonesia seperti suatu diskursus filsafat yang membutuhkan waktu tak berbatas untuk menjawabnya.

Namun demikian, marilah kita membuat satu garis imajiner yang berisi nilai-nilai universal kemanusiaan di dalamnya dengan ungkapan "ketika ranah keagamaan yang bersifat kontemplatif dan pribadi itu berinteraksi dalam masyarakat sejatinya akan tercipta ketentraman". Nah, bila ditemukan adanya intimidasi dalam interaksi keagamaan di dalam masyarakat yang berpotensi mengganggu keharmonisan bermasyarakat, maka di situlah kita telah melanggar nilai-nilai universal kemanusiaan. Itu adalah sebuah pelanggaran.