Minggu, 01 Juli 2018

Suara dalam Kesunyian

Dalam hidup manusia suatu saat akan atau pernah berada di dalam ruang gelap. Sepi dan pekat terasa di telinga. Sesekali hanya mendengar nafas menghela. Situasi ini disebut kesunyian.

Kesunyian adalah keadaan manusia itu sendiri. Sejak lahir seorang bayi berada dalam rahim sang ibu, diam dan tenang, seakan tidak terganggu oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia bergerak dan bertumbuh dalam kesunyian.

Di tempat berbeda seorang seniman mendapat suatu karya melalui perjumpaannya dengan kesunyian. Ia berada di dalamnya dan menemukan apa yang diinginkannya.

Dalam kesunyian, manusia berjumpa dengan dirinya yang sebenarnya. Ia dapat menyadari siapa dirinya dan mengetahui apa yang harus dikerjakannya.

Kesunyian bukanlah situasi yang harus dihindari dan ditakuti. Ia hadir tidak untuk menghilangkan damai dan rasa aman. Ia hadir sebagaimana kita hadir di dalam dunia. Ia berada apa adanya. Ia pula dapat menyingkapkan diri kita sebenar-benarnya.

Dalam kesunyian, kita mendengar suara yang tidak terdengar dalam keriuhan sehari-hari. Suara yang mampu menghadirkan damai dan rasa aman di dalam batin. Suara, yang bagi seorang nabi, hanya ditemukan dalam keheningan.
Suara yang berbicara kepada manusia di dalam kesunyian dan manusia mendengarkan dan memperoleh apa yang dibutuhkannya.

Suara dalam kesunyian akan selalu terdengar di saat kesunyian itu sendiri mendapat tempat di tengah aktifitas manusia sehari-hari.

Dalam keterpurukan seorang manusia, suara dalam kesunyian akan berkata, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu! Akulah Tuhan, Allahmu."