Senin, 03 Desember 2018

Mengapa ada Penderitaan?

Pertanyaan tentang keberadaan penderitaan di dunia adalah pertanyaan sepanjang abad, yang tidak mudah untuk dijawab atau mungkin tidak memiliki jawaban pasti yang mampu diterima oleh setiap orang.
Keberadaan penderitaan itu sendiri akan memungkinkan seorang mempertanyakan imannya, apakah yang saya percayai benar? Apakah Tuhan ada? Bila ada, mengapa Tuhan diam terhadap penderitaan ini? dsb.

Pergumulan terhadap keberadaan penderitaan adalah perhatian serius bagi yang melihat atau tengah berada di dalamnya. Segala bentuk pemikiran diupayakan guna memperoleh jawaban "mengapa ada penderitaan? Mengapa harus terjadi? Dimana Allah?"

Di sini, filsafat mencoba memahami penderitaan sebagai bagian dari kodrat manusia.

Leibniz mengurai penderitaan sebagai hal baik di dunia. Ia menyampaikan bahwa "Dilihat dari keseluruhan, dunia yang ada penderitaannya adalah lebih baik daripada yang tidak ada penderitaannya."

Kalimat itu dapat diartikan tidak mungkin Allah menciptakan dunia tanpa adanya keburukan dan penderitaan, karena keburukan dan penderitaan berkaitan erat dengan keterbatasan dan ketidaksempurnaan manusia.

Di sini, keburukan manusia dipahami sebagai ketertinggalannya dari kebaikan, yang seharusnya dapat dicapainya.
Itu adalah hakekat keburukan manusia.

Keburukan adalah kebaikan yang tertinggal, yang seharusnya bisa dicapai oleh manusia.

Keburukan di sini dapat diterjemahkan sebagai potensi untuk menderita.

Semakin berkembang perasaan dan kesadaran dalam manusia, semakin besar pula potensinya untuk menderita.

Karena manusia memiliki kodrat "lemah, terbatas, mudah terluka, menjadi tua, dan mati." maka kemungkinan manusia untuk menderita merupakan kodrat (nature).

Allah tidak dapat membuat hal-hal yang pada diriNya bertentangan. Ia menciptakan alam dan manusia sebagaimana adanya (manusia dalam kodratnya; lemah, terbatas, mudah terluka, dsb).

Tetapi apakah Allah yang baik tidak dapat mencegah kemungkinan manusia untuk menderita?

Bila Allah setiap kali campur tangan, begitu ada anak kecil yang akan menyentuh air mendidih dan menghindarkannya dari situasi itu, Ia tidak membiarkan alam dan manusia berjalan menurut kodratnya, yang justru itu semua menunjukkan keagunganNya.

Allah tidak mencegah terjadinya keburukan, penderitaan, kejahatan, dan dosa yang mungkin terjadi di dalam manusia, bukan berarti bahwa Ia menghendakinya, melainkan Ia konsisten dalam kehendakNya menciptakan manusia seperti adanya.

Hegel menyatakan bahwa tanpa negativitas, segi-segi positif eksistensi tidak dapat memperoleh bobot yang sebenarnya. Kalau setiap puncak tinggi di bumi dapat tercapai dengan lift, maka tidak ada kepuasan mendalam bila kita mencapainya dengan pendakian berat dan berbahaya. Dengan lain kata, tanpa penderitaan, kehidupan manusia tidak akan berbobot. Tanpa penderitaan, tidak ada tanggung jawab, pengorbanan, kesetiaan, solidaritas, dsb.

Pertimbangan diatas membuat kita mengerti bahwa adanya keburukan dan penderitaan merupakan cara Allah berkehendak di dalam manusia.

Namun, apakah itu menjawab pertanyaan dari berbagai macam bentuk penderitaan di dunia yang ada?

Ini bukan hanya penderitaan pada umumnya, yakni berlakunya hukum alam "makan dan dimakan", melainkan penderitaan konkrit individual masing-masing manusia yang sedang dipertanyakan.

Dengan demikian penjelasan-penjelasan di atas gagal memberi ukuran dari bentuk-bentuk konkrit penderitaan di dunia.

Kalau kita tetap ingin mengerti tentang hal ini, maka kita harus mengambil jalur teologi yang tidak hanya berfokus pada keburukan atau penderitaan dalam kodrat manusia saja, melainkan juga dari kabaikannya.

Boethius (480 - 524) menanyakan hal penting,  "Apabila ada Allah, darimana hal-hal buruk? Tetapi darimana hal-hal baik, apabila tidak ada Allah?"

Ini berarti jika tidak ada Allah, tidak mungkin ada kebaikan.

Apa itu kebaikan? Kebaikan dimaksud adalah kebaikan hati yang disertai kebahagiaan, karena kebaikan apapun yang tidak mendukung kebahagiaan, bukanlah kebaikan.

Kebaikan yang membahagia ini hanya dimungkinkan melalui keberadaan Allah.

Ada beberapa kebaikan yang dapat kita pahami secara konkrit, yakni:

1. Kebaikan sosial, meliputi perhatian seseorang, sebuah pujian, kasih ibu, kasih terhadap kekasih, bantuan pada saat kita putus asa, dsb.

2. Kebaikan afektif, di dalam diri kita, berupa hati nurani. Hati nurani ini yang menggerakkan kita memilih yang baik, jujur, adil, setia, dst.

3. Kebaikan spiritual, menyatakan dalam keyakinannya bahwa hidup manusia mempunyai makna yang selalu menunjuk pada Allah.

Lalu, apa hubungan kebaikan dengan masalah penderitaan?

Bagian-bagian dari kebaikan di atas merupakan implementasi keberadaan Allah di dalam manusia, yang melampaui negativitas kodrat manusia.

Sekalipun kita tidak mengerti, namun segala penderitaan yang kita alami sudah dikalahkan oleh kebaikan Allah yang bebas dari kesalahan dan ketidakakuratan. Ini menjadi unsur dalam kebahagiaan kita.

Rasul Paulus mencatat dalam suratnya kepada jemaat Korintus perihal keberadaannya yang menderita, namun menerima kebaikan yang membahagia dari Allah yang mutlak dalam perkataanNya yang bebas dari kekeliruan dan ketidakakuratan ini.

"Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:7-9).

Apabila tidak ada kelemahan, apakah kuasa kebaikan Allah dapat dirasakan manusia?

Mengapa ada penderitaan?