Selasa, 14 Mei 2019

Antara Aku, Bakwan, dan Perut ini


“Selama Ramadhan buka jam 17.00” Wah! Membaca tulisan di etalase gerobak gorengan itu seperti membaca “Jalan ditutup!” Perasaan bingung, sedih, campur aduk seakan-akan jalan itu satu-satunya menuju kontor. Hiks! Tulisan itu telah menggagalkan impianku menikmati bakwan pagi hari bersama secangkir kopi robusta yang pait, pait sedep.

Bulan Ramadhan banyak rumah makan dan jajanan pasar kaki lima tutup seiring dimulainya hari pertama puasa. Di kota bersimbol hiu dan buaya ini, mungkin juga di semua kota, suasana pagi di minggu pertama Ramadhan yang biasanya dipadati kendaraan hingga Barakuda terparkir di samping gedung KPU entah apa maksudnya mungkin supaya keren saja, kini terlihat sepi dan lengang. Laju kendaraanku dapat mencapai titik maksimal beberapa saja, setelah itu bernyanyi “Suasana Jogja…” (KLA Project) karena tiba-tiba kutemukan saat itu motor dan mobil berjalan pelan dan membuatku harus menyesuaikan kecepatan. Mungkin mereka berpikir, “Nah! Jalanan lengang santai aja bawanya”.

Sebenarnya kondisi jalan lengang sangat menyenangkan, pikiran terasa tenang, tidak gamang terhadap laju kendaraan bermanuver ke kiri kanan dan membuat alis terangkat ke sorga. Ketenangan ini mungkin hanya bisa ditemukan di bulan Ramadhan. Tapi ada yang tidak bisa kutemukan di pagi hari selama bulan Ramadhan! Bakwan! Makanan yang mengilhamiku singgah untuk membeli dan menikmati kehangatannya.

Saat hari pertama puasa, ketika suasana jalan lengang tanpa aktifitas kendaraan motor mobil saling bertegur sapa dengan klakson, kendaraan kupacu dengan leluasa tapi tidak ugal-ugalan menuju tempat yang biasa kusinggahi untuk membeli bakwan, tiba-tiba terlihat olehku kertas menempel di tempat itu dengan tulisan, “Selama Ramadhan buka jam 17.00” Wiih! Baca tulisan itu kok kayak baca tulisan “Jalan ditutup!”. Bingung, sedih campur aduk seakan jalan yang dilewati itu satu-satunya jalan menuju kantor. Hiks! Tulisan itu menggagalkan impianku menikmati bakwan di pagi hari bersama secangkir kopi robusta yang pait pait sedep.

Aku sampai berpikir puasa bakwan selama Ramadhan, tidak mau ke lain gorengan. Cukup bakwan yang menjadi pilihanku diantara semua gorengan yang ada. Aku telah mencoba untuk memilih yang lain tapi tetap saja bakwan yang ada di bayanganku. Sulit melupakan bau minyak perpaduan wortel toge, tepung, dan secuil udang sebagai topping pemanis tampilannya. Kesederhanaannya menarik diriku untuk menikmatinya dengan sambal petis yang menutupi atasnya. Wuih! Nasi mana... nasi...!
Terpikir sejenak olehku apa sebutan makanan itu di kota-kota lain ya, sambil berharap perut ini tiba-tiba kenyang karena membayangkannya. Ternyata kutemukan bakwan yang biasa disebut ote-ote ini punya a.k.a (also known as) di beberapa kota Indonesia, antara lain disebut weci/heci oleh penduduk kota ‘Singo Edan’ Malang, Jawa Timur, lain lagi di Kendari Sulawesi Tenggara ia terkenal dengan nama kandoang, orang kupang menyebutnya makao/macau God of gambler mungkin berasal dari sana, bagi masyarakat Pati Jawa Tengah disebut pia-pia, bagi orang Semarang dan Pekalongan ada istilah “mereka suka makan badak (bakwan)”, di Jawa Barat orang Sunda mengenalnya bala-bala, orang Banyuwangi menyebutnya hongkong, dan penduduk Makasar, Sulawesi Selatan mengucapnya bikang doang.

Ternyata si Bakwan telah menjadi makanan tradisional-nasionalis, tidak hanya dinikmati sebagian orang beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu, tidak juga hanya buat orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTB-NTT, Sulawesi, Bali, Papua. Ia adalah bakwan yang punya nama lain bikang doang, hongkong, bala-bala, badak, pia-pia, makao, kandoang, weci, atau ote-ote yang, suka tidak suka, dikenal hampir di setiap pelosok nusantara.

Ya! Ada yang suka dan tidak. Mereka yang tidak suka, alergi dengannya dan menganggap ia racun dan pantang untuk dinikmati, bahkan tidak jarang mereka berdemonstrasi hanya karena kelezatan minyaknya telah menggoda jutaan orang dari segala suku, bangsa, dan agama.

Para pendemo ini adalah para perut yang sensitif terhadap kandungan bahan dari bakwan. Mereka bisa menolak mentah-mentah saat bakwan masuk ke wilayahnya, bahkan bisa dengan sekejap langsung didepak keluar, dan si pemilik perut berkata, “Aah! Ga lagi makan ni barang, kapok!”
Gara-gara perut konservatif, bakwan menjadi makanan yang menakutkan bagi sebagian orang. Ia bisa menentukan jenis makanan apa saja yang sealiran dengannya dan bisa diterima oleh kolega-koleganya, usus 12 jari, besar, kecil, dan lambung. Bila tidak sesuai dengan kriteria mereka lekas-lekas ditolak, didemo kemudian ‘diturunkan’. Ironis!

Ini tidak baik bagiku bila perut ini nantinya akan mengikuti perut-perut lain menolak bakwan dan menghapuskannya dari peradaban dunia. Bakwan harus tetap mengada sekalipun para perut konservatif menolaknya. Ia harus tetap menjadi salah satu makanan pemberi rasa penasaran bagi orang saat pertama kali mencicipinya.

Aku harus jaga perut ini agar bisa menerima bakwan selayaknya saudara tak terpisahkan yang bertemu saat uang menipis, ada di tengah percakapan ngalur ngidul sejawat, dan sebagai teman kopi robusta nan pait pait sedep itu. Aku juga perlu menjaga perut ini dari gangguan maag yang menyerang senyap tak terduga dan nyeri lambung yang mematikan konsumsi gorengan lagi untuk selamanya. Weuh! kalau sudah begini bakwan bisa jadi mantan pacar terindah yang sulit dilupakan.

Aku ingin bakwan bisa jadi bagian hidup rakyat Indonesia dan simbol kebaikan bagi perutku dan para perut lainnya. Menguntungkan banyak orang, terutama Mas penjual bakwan di tempat aku biasa mencapit bakwan-bakwannya dan kumasukkan ke dalam kantong plastik bening sambil memperlihatkan kepada orang lain bahwa aku pendukung bakwan dan perut ini harus mendukungnya karena antara aku, bakwan, dan perut ini adalah kesatuan. Duh, nasi mana... nasi!

***

Sumber

Senin, 29 April 2019

Hubungan Baik Jangka Panjang Jokowi dan Jangka Pendek Anies


Manusia adalah makhluk individu dan juga makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia memiliki ciri khas berbeda satu dan lain sekalipun ia kembar identik. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan komunitas atau kelompok tempat ia bernaung dan tidak dapat hidup sendiri, kendati ada keputusan menyendiri, hakikatnya berada untuk berinteraksi dengan sesama. Dalam arti, Ia membutuhkan kebersamaan dengan sesama dan saling bergantung di dalamnya.

Aristoteles memandang manusia sebagai makhluk berakal atau mampu berkomunikasi berdasarkan akal pikirannya. Ia pula dipandang sebagai makhluk berpolitik (Yunani = Zoonpoliticon), mampu membentuk peradaban (civilization) yakni keluarga, masyarakat, dan negara yang di dalamnya terkandung aturan-aturan yang harus diikuti guna terciptanya keadilan sosial.

Indonesia memiliki simbol negara, yakni Pancasila dan memiliki lima pilar kehidupan bernegara di dalamnya, salah satunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Makna dari sila kelima ini cukup luas, antara lain adil di segala bidang kehidupan, jasmani dan rohani, dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia secara merata berdasarkan azas kekeluargaan, yakni hubungan yang menimbulkan rasa dekat dan saling memiliki satu dan lainnya.


Hubungan ini tentunya identik dengan sikap-sikap dasar hubungan baik, yakni adanya penerimaan terhadap ide dan praktik individu atau kelompok lain yang berbeda, rasa belas kasih terhadap individu atau kelompok lain dan melakukan sesuatu terhadap kesulitan mereka dan memilki integritas berselaras dalam kata dan perbuatannya. Sikap-sikap ini memperlihatkan bagian-bagian dasar dalam membangun hubungan baik antar individu atau kelompok.
Pada dasarnya hubungan baik ingin dicapai dan dipertahankan oleh setiap orang, siapapun dia. Sayangnya, realita menunjukkan adanya hubungan sosial yang berjangka panjang dan pendek. 
Hubungan sosial berjangka panjang, bila dapat dikatakan, tatkala individu merasa dekat kepada individu lain dan hubungan tersebut bertahan lama. Ini tentunya kait mengait dengan sikap penerimaan, belas kasih, dan integritas individu tersebut terhadap individu atau kelompok lainnya.
 Banyak figur dapat dijadikan contoh, salah satunya Presiden Jokowi, figur yang mampu membangun hubungan baik yang bertahan lama atau berjangka panjang. Salah satu contoh dari tindakannya membangun hubungan baik terlihat saat belum banyaknya dukungan partai politik kepada dirinya saat mencalonkan diri sebagai presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 silam. Namun seiring berjalannya waktu Presiden Joko Widodo berkonsolidasi dengan partai-partai politik yang berseberangan dengannya di Pilpres 2014 selama masa kepemimpinannya. Sangat jelas ia berhasil membangun hubungan baik dengan partai-partai lain sehingga di Pilpres 2019 hubungan yang terbangun selama hampir lima tahun itu berbuah manis, Presiden Joko Widodo memperoleh banyak dukungan partai-partai politik yang berpotensi mendulang suara signifikan untuk melanjutkan kepemimpinannya di periode berikut. Ini cukup menyimpulkan hubungan baik yang dibangun oleh Presiden Joko Widodo terhadap partai-partai politik yang dulu berseberangan dengannya menjadi cair dan kini bersinergi mendukung satu dan lainnya.
Hubungan sosial berjangka pendek, kurang lebih berlawanan dari sikap-sikap yang menunjukkan hubungan baik berjangka panjang, yakni lebih mengarah kepada kepentingan diri atau kelompok yang mendukungnya sehingga nampak sikap pengabaian ide dan praktik individu atau kelompok lain yang berbeda dengannya, sikap acuh memandang kesulitan individu atau kelompok lain, dan ketidaksesuaian individu tersebut dalam perkataan dan perbuatan.

Bila dapat diandaikan sebagai contoh, soal meluapnya sungai ciliwung beberapa hari lalu mendatangkan banjir di kota Jakarta dan sekitarnya dan menjadi headline di media-media sosial untuk beberapa waktu. Luapan sungai ciliwung menyebabkan ribuan penduduk Jakarta harus mengungsi dan menetap di permukiman-permukiman yang tidak terdampak banjir. Perasaan warga Jakarta yang terdampak banjir mungkin beragam, sedih, marah atau bingung mencari cara mengatasinya. Mungkin perasaan itu juga dirasakan oleh Gubernur DKI, Anies Baswedan terhadap langkah-langkah taktis yang harus dilakukannya secara cepat. Menarik di sini, banjir dialami warga Jakarta juga dialami warga Tangerang Selatan dan Bekasi namun media-media online ramai membicarakan banjir di Jakarta dan mengaitkan banjir tersebut dengan kinerja Gubernur DKI, Anies Baswedan. Ia diolok-olok hanya dapat menata kata daripada menata kota. Meme-meme ditimpakan kepadanya tanpa ada perlawanan (klarifikasi) berarti darinya. Seperti seorang jatuh ditimpa tangga, ia dibandingkan pula dengan gubernur sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dikatakan memiliki kemampuan manajerial tinggi dalam menata kota. Dalam arti, banjir yang disebabkan volume air berlebihan di sungai ciliwung hingga meluap dan menggenangi beberapa titik di kota Jakarta dikarenakan ketidakmampuan Anies dalam menata kota, terutama menormalisasi sungai sebagaimana telah dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ketika ia memimpin Jakarta. Mengapa netizen ramai mempersoalkan kinerja Anies dan membandingkan dengan Ahok?  Tentu dapat dijawab dalam berbagai perspektif, salah satunya adanya sejarah polarisasi masyarakat yang cukup kuat pada masa Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 2017 silam yang belum terselesaikan. Sekalipun terlihat adanya tata kata Anies untuk merajut kembali kerukunan warga Jakarta pasca pilgub ternyata tidak nampak pada tataran konkritnya. Konsolidasi terhadap kelompok yang berseberangan dengannya saat Pilgub lalu tidak berbentuk atau terkesan dibiarkan.

Di sini menjadi catatan tersendiri bahwa membangun hubungan baik tentunya bermula dari kata atau janji. Janji merajut kembali kerukunan warga Jakarta yang tidak muncul di permukaan. Membangun hubungan baik tidak mudah, ia akan menjadi sementara atau berjangka pendek saat kata atau janji tidak terealisasi. Bencana banjir di Jakarta yang seharusnya mendapat perhatian dan dukungan moril dari seluruh warga Jakarta, kini menjadi catatan betapa pentingnya membangun hubungan baik berjangka panjang.

***

Artikel ini tayang di kompasiana.com dan pepnews.com

Jumat, 26 April 2019

Pengharapan di Tengah Meningginya Suhu Politik Pasca Pemilu


Pasca perhelatan Pemilu 2019 minggu lalu masih menyisihkan tanda tanya, “Siapakah Presiden terpilih 2019 – 2024?” Alih-alih mendengar laporan terkini pembangunan infrastruktur atau langkah taktis pemerintah membangun perekonomian dan sumber daya manusia untuk lima tahun ke depan, saat ini masyarakat seakan disuguhkan mendengar berita Pemilu 2019 secara terus menerus. Ibarat menonton pertunjukkan drama dua babak dan memaksa penonton duduk sepanjang pementasan. 

Situasi politik ini seperti mengajak berjalan di tempat sambil berada pada titik api di siang hari dan mungkin hanya teriakan batin mampu meredakan panasnya temperatur politik yang mestinya sudah mendingin pasca pencoblosan beberapa hari lalu.

Kenyataannya, teriakan batin pun belum mengubah situasi politik mendingin, bahkan sebaliknya, situasi menjadi semakin panas hingga berpotensi mencapai titik didih. Mengapa situasi politik tetap memanas bahkan setelah Pilpres? Tetap panasnya temperatur politik hingga saat ini bertolak dari ketegangan atas kemunculan hasil hitung cepat atau Quick Count (QC) mengunggulkan pasangan calon (paslon) nomor urut 01, Jokowi – Ma’ruf dengan selisih suara lebih dari 5%. Informasi itu ditanggapi pendukung paslon nomor urut 02, Prabowo – Sandiaga, dengan menyatakan hasil QC yang diselenggarakan lembaga-lembaga survei diragukan dan tidak bisa dipercaya karena menurut hasil real count internal Badan Pemenangan Nasional (BPN), paslon 02 memperoleh hasil suara lebih dari 60%.

Berita itu menjadi trending topic satu minggu di media sosial belakangan ini, bila terus menerus memanas di minggu-minggu kemudian menjadi pelatuk senjata siap tembak menghujam apapun di depannya. Memang tidak terelakkan bila hasil QC, yang dianggap akurat mengetahui hasil akhir perolehan suara, berdampak pada klaim kemenangan paslon. Euforia kemenangan tentunya menimbulkan friksi di antara para pendukung paslon. Pasalnya, hasil QC berdasarkan lembaga-lembaga survei menunjukkan persentase perolehan suara diatas 50% kepada paslon nomor urut 01, Jokowi – Ma’ruf, sedangkan hasil QC internal BPN mengungguli paslon nomor urut 02, Prabowo – Sandiaga.

Hasil tersebut mencuatkan ketidaksetujuan BPN Prabowo – Sandiaga kepada lembaga-lembaga survei yang mengungguli Jokowi – Ma’ruf karena lembaga – lembaga tersebut dianggap tidak kredibel atau tidak dapat dipercaya sehingga BPN melakukan deklarasi kemenangan menurut hasil real count internal BPN. Sikap kontraproduktif ini menyebabkan klaim yang sama dilakukan TKN melalui konferensi pers.

Hal menarik, saat artikel ini ditulis, BPN masih belum membuka real count internalnya sebagaimana telah dilakukan lembaga-lembaga survei lainnya untuk diketahui publik. Namun demikian, publik tentu berharap BPN berkenan membuka real count internalnya untuk diketahui bersama sehingga mendinginkan temperatur politik yang sedang mencapai titik didih ini.

Tentunya lembaga-lembaga survei harus memiliki kredibilitas atau dapat dipercaya publik sehingga saat dibuka dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan meningkatkan kepercayaan publik. Dikatakan kredibel atau dapat dipercaya bila masing-masing lembaga survei mematuhi Peraturan Komisi Pemilihan Umum 10 Tahun 2018 tentang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum dan di luar koridor hukum tersebut, lembaga survei tidak dapat dikatakan kredibel atau dapat dipercaya.

Dengan keterbukaan data dan metode perolehan suara oleh lembaga-lembaga survei dan internal BPN kiranya mampu mengurai kerumitan opini yang berkembang di masyarakat perihal kecurangan-kecurangan sistemik nan masif dilakukan oleh TKN Jokowi – Ma’ruf kepada BPN Prabowo – Sandiaga.

Bila harapan di atas kurang efektif atau sama sekali tidak bekerja mendinginkan temperatur politik sekarang ini, maka netralitas narasi politik perlu tayang secara masif ke berbagai media sehingga diharapkan publik menemukan benang merah dari ketegangan yang terjadi sekarang ini dan memperoleh cara menyelesaikannya.

Namun bila hal di atas tidak pula meredakan ketegangan politik ini, maka langkah alternatif dapat dipikirkan saat ini dengan merespon secara tidak berlebihan berita-berita yang belum dapat dibuktikan kebenarannya. Bila sikap ini secara konsisten terjaga, maka narasi-narasi provokatif yang dibangun secara sengaja atau responsif mencapai anti-klimaks, publik tidak lagi mempersoalkan beda pendapat dan lebih mengambil jalan damai.

Berharap temperatur politik di Indonesia kembali berada pada batas normal melalui kedewasaan masyarakat menyikapi proses demokrasi jurdil dengan mengedepankan nilai persatuan dan kesatuan bangsa.

Let us see!

***

Artikel ini tayang di kompasiana.com dan pepnews.com 

Selasa, 16 April 2019

Memprediksi Presiden Terpilih 2019-2024


Perjalanan menuju ke TPS berhasil dilakukan. Bangun pagi, terngiang waktu pencoblosan, diiringi perasaan bersalah bila tidak mencoblos, akhirnya membuat diri melangkahkan kaki untuk mandi, ganti baju, dan berangkat menuju paku yang siap menusuk kertas berwarna label abu-abu. Warna lain? Tidak. Menggunakan form A5, hanya memperoleh kertas memilih Presiden dan wakil Presiden. Namun, sebagai seorang pendatang dan berdomisili di suatu daerah yang jauh dari lokasi DPT asal, bersyukur diperbolehkan menggunakan hak suara.

Tentunya perkenanan Tuhan berperan utama dalam kebersyukuran diri ini. Ditambah perjuangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempersiapkan teknis penyelenggaraan pemilihan. Dengan sistem pemilihan ini, para pemilih dapat memberi hak suaranya hampir tanpa hambatan berarti karena akses untuk mencoblos di luar domisili menjadi lebih mudah.

Memang saat tulisan ini dimuat, proses pencoblosan masih berlangsung. Namun, hampir dipastikan proses tersebut berjalan baik, sebaik pikiran kita memutuskan presiden terbaik yang akan memerintah Indonesia hingga 2024. Dikatakan baik karena calon permilih yang hanya membawa KTP elektronik (e-ktp) dengan alamat di lokasi TPS namun belum tercatat di DPT diperbolehkan mendaftar dan menggunakan hak suaranya satu jam sebelum ditutup. Itu cukup mengapresiasi kinerja KPU di tahun ini. Memang perlu pula disadari adanya opini mencakup sistem pemilihan yang memaparkan kelemahan-kelemahan lembaga penyelenggaraan pemilihan umum ini.

Terlepas itu semua, proses perjalanan pemilihan umum tahun ini sangat baik dibanding sebelumnya. Hal itu terlihat dari animo masyarakat Indonesia di luar negeri yang diberitakan jauh lebih banyak dari tahun pemilihan sebelumnya. Pencapaian progresif ini perlulah diberitakan agar masyarakat melihat usaha perbaikan pemerintah demi menyelenggarakan sistem pemilihan umum yang damai dan terhindar dari sikap apatis-pesimistis terhadap perpolitikan ini.

Ada rasa penasaran siapa presiden terpilih 2019-2024, apakah dari pihak petahana atau oposis? Sebenarnya banyak cara orang memprediksi siapa presiden terpilih 5 tahun ke depan. Salah satu diantaranya sebagai berikut.

Pertama, bila melihat antusiasme pemilih menggunakan hak suaranya, dapat diasumsikan total pemilih mendekati realisasi jumlah penduduk Indonesia yang memiliki hak suara. Antusiasme ini ternyata sangat berpotensi menggerus sikap golput dan apolitis masyarakat Indonesia yang mencapai puncaknya di tahun pemilihan sebelumnya. Bila mayoritas pemilih golput pada waktu itu tergerak menggunakan suaranya saat ini dikarenakan adanya pengaruh instruksi pemerintah untuk memilih, maka mayoritas pemilih golput mendukung pemerintah yang memang identik dengan sang petahana.

Kedua, perbaikan sistem pemilihan umum dengan beberapa perbaikannya telah berhasil menstimulasi gerak masyarakat  menggunakan hak suaranya. Kemudahan mencoblos hanya melampirkan KTP elektronik menjadikan pemilihan selayak teknologi startup yang memberi akses semudah mungkin bagi penggunanya. Para pemilih golput di waktu lalu itu mungkin tidak merasakan kemudahan akses memilih seperti terlihat sekarang ini, oleh karenanya mereka berpotensi memihak pemerintah alias petahana yang telah berhasil memberi kemudahan ini.

Ketiga, berbagai narasi turut mempengaruhi opini masyarakat memilih. Narasi yang dibangun, secara langsung maupun tidak langsung, telah menggerakkan calon pemilih, termasuk 'swing voter' dan pemilih golput. Narasi 'Hoax' atau berita tidak benar yang sengaja dibuat untuk menggiring opini publik ternyata menjadi senjata bumerang di tangan awam yang memainkannya. Diketahui banyaknya 'hoax' ditemukan di pihak oposan dan memberi keuntungan petahana menggalang suara 'swing voter' dan para pemilih golput.

Bila analisa ini benar maka telah diketahui siapa presiden terpilih 2019-2024.

So, lets see!

***

Tulisan ini tayang di kompasiana.com dan pepnews.com

Sabtu, 13 April 2019

Apresiasi kinerja KPU dan militansi pemilih. Haruskah memilih?


Dalam hitungan hari kita akan mengikuti perhelatan lima tahunan memilih calon legislatif dan eksekutif. 1 April 2019 pemilihan, seperti pada umumnya, dilakukan di daerah pemilihan yang tersebar di setiap pelosok nusantara dan beberapa negara tempat warga negara Indonesia berdomisili. Beberapa cara dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) guna mengajak masyarakat Indonesia menggunakan hak pilihnya. Mulai sosialisasi waktu pelaksanaan hingga tata cara pemilihannya dilakukan melalui perangkat yang tersedia saat ini seperti media sosial, televisi, radio, surat kabar, hingga ‘door to door method’.

Sehubungan dengan itu, tidaklah berlebihan bila kita memberi perhatian dan apresiasi tinggi pertama-tama kepada pihak KPU atas dedikasinya sebagai lembaga penyelenggara pemilihan umum di tengah pro dan kontra pelaksanaannya. Upaya KPU menjalankan sistem pemilihan di tahun ini terbilang baik dan menjawab kebutuhan rakyat, khususnya bagi calon pemilih yang jauh dari lokasi ia terdaftar sebagai pemilih tetap. Adanya kemudahan, bila dapat dikatakan demikian, dalam mengurus perpindahan tempat Daftar Pemilih Tetap (DPT) mengikuti lokasi pemilih berdomisili menambah keberhasilan progresif KPU terhadap sistem yang dibangunnya dari tahun ke tahun.

Tiada gading yang tak retak, memang berlaku pada setiap sendi kehidupan manusia, tidak terkecuali sistem yang dibangun KPU dalam mengakomodir pemilih di luar lokasi ia terdaftar sebagai pemilih. Dalam percakapan dengan seorang ibu, yang terkesan letih di raut wajahnya seusai mengurus surat kepindahan memilih dari tempat ia terdaftar sebagai pemilih ke lokasi ia berdomisili yang berjarak lebih kurang 600 km dari tempat sebelumnya, diketahui bahwa ia harus mengantri dan pulang pergi mengurus surat tersebut di kantor KPU, dikarenakan minimnya informasi didapat perihal persyaratan kelengkapan dokumen. Namun demikian, ia menyampaikan informasi positif terkait pelayanan pihak KPU dan pernyataan tersebut menghilangkan kesusahan di raut wajahnya. Ini sinyal baik bahwa KPU serius dan berkomitmen memberi terbaik untuk masyarakat. 

Apresiasi tinggi patutlah disematkan pula kepada setiap calon pemilih yang mengambil keputusan berjuang melindungi hak suaranya dari sikap ‘tidak memilih’dengan cara mengurus surat kepindahan tempat memilih sekalipun harus berjibaku dengan antrian dan panas dinginnya cuaca. Terkesan tidak ada niat untuk membatalkan rencananya sambil berkata, “Tidak ada kata, kembali!”. Kesungguhan menentukan sikap ini tentunya membutuhkan semangat juang di atas rata-rata yang seakan berada antara hidup dan mati. Calon pemilih militan ini telah mengambil keputusan penting yang dibutuhkan negara dan telah menjadi penentu baik buruknya negara di masa depan.

Haruskah Memilih?

Kesuksesan pemilu tentu terkait langsung dengan keseriusan KPU mengemban tugasnya sebagai penyelenggara pemilihan umum dan militansi partisipan sebagai calon pemilih. Benang merah dari keseriusan dan militansi ini terlihat pada aktifitas memilih pemimpin negara dan wakil rakyat. KPU memfasilitasi pemilihan dan partisipan memilih.

Pertanyaan keluar dari seseorang, “haruskah kita memilih?” Pertanyaan klasik ini sebenarnya memiliki varian jawaban dan beberapa diantaranya belum menyentuh kesadaran terdalam setiap warga negara untuk bergerak dan melangkahkan kaki menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dalam arti, apapun jawaban dari pertanyaan itu belum dapat meyakinkan calon pemilih pentingnya memilih presiden dan anggota legislatif. Mengapa demikian? Beberapa kemungkinan alasan seseorang tidak menggunakan hak pilihnya dapat disampaikan sebagai berikut.

Pertama, sikap apolitis atau tidak berminatnya calon pemilih terhadap hal-hal yang berbau politik dan sebisa mungkin dihindari berpotensi mengganggu kebijakan-kebijakan pemerintah terpilih yang menganggap itu semua bukanlah hal penting. Namun demikian, perlu juga dipahami munculnya sikap ini dapat disebabkan sesuatu yang politis juga.  

Kedua, sikap pesimistis atau ragu terhadap kemampuan calon presiden dan legislatif dalam membawa amanat rakyat. Para calon, khususnya legislatif, terlihat tidak baik dan sulit dipercaya. Mereka seakan terbungkus oleh stereotip pejabat negara yang sering berurusan dengan pihak kepolisian terkait kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan.

Ketiga, ketidakpercayaan kepada suatu sistem demokrasi dan lebih memilih sistem pemerintahan lain. Negara Indonesia menganut sistem demokrasi Pancasila, di mana peraturan dan hukum berlaku berdasarkan kelima silanya. Namun demikian, sistem demokrasi Pancasila dianggap tidak menjawab kebutuhan rakyat secara spiritual dan sosial. Sekalipun sila pertama dan kelima tertulis landasan pemikiran tentang ketuhanan dan keadilan sosial.

Keempat, adanya faktor eksternal di mana calon pemilih tidak bisa memilih karena karena buruknya teknis pemilihan atau dilarang oleh majikan/atasan untuk pergi ke TPS. Bila terjadi persoalan teknis dari penyelenggara pemilu terkait kelengkapan dokumen atau hal lainnya, tentunya harus menjadi bahan evaluasi penting, namun bila calon pemilih dilarang menggunakan hak suaranya akan langsung berurusan dengan kepolisian karena melanggar pasal 531 Undang-undang nomor 7 tahun 2017 Tentang Pemilu.

Menjawab pertanyaan “Haruskah memilih?” hendaklah mempertimbangkan dua hal ini. Pertama, negara melalui KPU sebagai penyelenggara pemilu telah menawarkan sistem demokrasi yang mengakomodir kebutuhan mendasar suatu bangsa. Melalui pemilu, sistem demokrasi ini membutuhkan para pemimpin yang mampu berjuang demi Pancasila. Kedua, akan selalu ada para calon pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya bila didasarkan pada persoalan di atas. Namun bila tidak ada persoalan-persoalan di atas yang menghalangi kita untuk memilih, berpartisipasilah memilih dalam pemilihan umum 2019.

***

Artikel ini tayang di Kompasiana.com

Minggu, 31 Maret 2019

Bahagia itu suatu cara pandang



Percakapan bersama teman-teman tentang hal-hal yang ditangkap oleh ingatan saat itu, mengenai peristiwa masa lalu atau yang sedang berlangsung, diselingi cerita lucu, epos, hingga cerita yang membuat dahi berkerut, dapat menyuguhkan impresi yang disebut kebahagiaan. Keindahan objek  hasil tangkapan mata seperti bunga, rumput hijau, langit biru, dan bintang di malam hari turut memperlihatkan bahwa arti kebahagiaan ditemukan sejauh mata memandang.

Kebahagiaan itu sendiri dikenal melalui cara manusia memandang ke dalam atau di luar dirinya. Ke dalam diri melalui waktu permenungan dan di luar diri melalui interaksi sosialnya. Artinya, kebahagiaan dinilai dekat atau tidak dengan hidup manusia itu ditentukan oleh cara manusia melihat diri dan lingkungannya. Kebahagiaan terlihat dan terasa dekat namun juga tidak terlihat dan terkesan jauh, dapat dilihat dan disentuh namun juga tidak dapat terlihat dan disentuh. Itu semua dipengaruhi perspektif manusia terhadap dunianya.

Suatu kali saya menghadiri acara pernikahan seorang teman ‘seperjuangan’. Selayaknya teman dekat, saya hadir di acara tersebut. Namun bukan sekedar nilai pertemanan saya hadir melainkan tindakannya dalam mempersiapkan dan membagikan undangan ke setiap rekan-rekan di tempat kerjanya. Undangan itu terkesan istimewa karena berbentuk undangan pribadi, dicetak dengan nama masing-masing rekannya, dan diletakkan di setiap meja mereka. Bukankah itu sudah seharusnya demikian? Ya, dan saya menemukan momen sederhana itu yang menunjukkan kebahagiaan tersendiri.

Melihat kebahagiaan dari rinci peristiwa yang sedang berlangsung, bukanlah hal mudah untuk disadari dan diingat. Keberadaannya seringkali sulit disadari dan terlupakan oleh keseharian manusia. Lalu bagaimana menemukan kebahagiaan dalam keseharian kita? Ada beberapa perspektif kebahagiaan yang setidaknya ditemukan dalam keseharian kita.

Pertama, kebahagiaan dirasakan tatkala kita memperhatikan bahwa perlunya menjaga kesehatan, memperhatikan pola makan, mengolah tubuh agar memiliki tubuh yang segar dan bugar. Memperhatikan kulit wajah agar terlihat berseri, mengobati luka akibat tergores oleh benda tajam dan sembuh darinya, minum vitamin pembangkit stamina dan aktif berolah raga, dan kegiatan yang berkenaan dengan fisik lainnya. Itu adalah kebahagiaan yang pertama yang dapat kita pikirkan, lihat, dan perhatikan dan kebahagiaan ini disebut kebahagiaan fisik.

Kedua, kebahagiaan di saat kita sedang membaca suatu buku dan menyelesaikannya. Membaca membawa kita mendapati pengetahuan atau pemahaman tentang dunia dan realita di dalamnya. Membaca membawa manusia memperoleh tingkat kebahagiaan karena mengetahui hal-hal yang hanya dapat diperoleh dari bahan bacaan. Begitupula dengan menulis, ia turut membawa manusia dalam kebahagiaan karena menuangkan konsep pemikiran terdalam yang terkadang sulit tersampaikan secara verbal. Kebahagiaan kedua ini disebut kebahagiaan intelektual.

Ketiga, kebahagiaan melihat dekorasi yang menarik di mall, rumah, atau jalanan yang tertata indah, cahaya warna-warni di jalan saat sedang menuju tempat tujuan, melihat pemandangan gunung yang dikelilingi perkebunan teh, sungai jernih yang mengalir tenang di dalam hutan, pantai berpasir putih ditemani ombak laut menggulung teratur, dan sebagainya. Kebahagiaan ini disebut kebahagiaan estetik.

Keempat, kebahagiaan dalam memberikan sesuatu kepada seorang yang membutuhkan, memberi senyum kepada orang lain tatkala tiada menerima balas, memotivasi seorang yang membutuhkan penguatan mental di tengah persoalan yang dihadapinya, membantu seorang menyeberang jalan, dan sebagainya. Kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan moral.

Kelima, kebahagiaan menyadari bahwa Tuhan mengasihi manusia tanpa menuntut balas, memahami hidup adalah pemberianNya yang patut disyukuri, dan meyakini bahwa kehidupan kita di dunia memiliki tujuan memuliakan Dia, Sang Pencipta. Sebenarnya kebahagiaan ini yang harus menjadi pusat dari segala bentuk kebahagiaan. Relasi manusia dan Sang Pencipta sejatinya adalah kebahagiaan sesungguhnya, karena manusia memiliki kemampuan dariNya untuk memaknai hidup karena tanpa pemaknaan hidup, segalanya terlihat tidak berguna. Segala yang tidak bermakna dan berguna bukanlah arah menuju kebahagiaan. Hubungan yang terbangun antara Tuhan sebagai Sang Pencipta segala yang ada, atau dikatakan berada, dengan manusia sebagai salah satu ciptaanNya, bahkan dapat dikatakan, puncak dari ciptaanNya memberi kebahagiaan mengalir ke dalam ruang kosong manusia yang hanya dapat terisi oleh kebahagiaan rohani ini.

Alam pegunungan, laut luas samudera, langit biru dan sekumpulan awan, bumi mengeluarkan tunas, pohon dan buahnya mengajak alam pikir manusia mengungkapkan Tuhan yang jauh di atas sana dapat terlihat dalam jarak pandang kita. Kebahagiaan itu sederhana, ia bergantung dari bagaimana cara kita melihat dunia dan cara pandang tersebut dapat dinikmati ketika relasi kita dan Tuhan terproses dalam keseharian kita.

***

Tulisan ini tayang di kompasiana.com

Senin, 18 Maret 2019

Tragedi di Selandia Baru dan Impian "White Supremacy"

Seperti tidak pernah selesai mendengar berita tentang terorisme. Dalam kurun waktu satu tahun ini tidak kurang dari tiga peristiwa terorisme terjadi di dunia. Di awal 2018, New York Times  merilis berita tentang penembakan yang dilakukan oleh seorang pria pada sebuah sekolah di Parkland, Florida, AS.
Kemudian, di penghujung 2018, Guardian mengabarkan seorang pria menembaki orang yang berada di dekat pasar malam di Strasbourg, Perancis. Namun, yang masih segar dalam ingatan masyarakat Indonesia adalah peristiwa pemboman di Surabaya pertengahan 2018 silam yang dilakukan oleh satu keluarga, dan menambah catatan kelam sejarah Indonesia menghadapi terorisme.
Hari jumat 15 Maret 2019, alih-alih mendengar berita penyejuk jiwa nan inspiratif agar menjadi pribadi baik dalam keseharian, malah tersentak melihat video kiriman teman yang berisi aksi teror yang dilakukan secara sadar dan didokumentasikan secara live oleh seorang pria bernama Brentont Tarrant. Ia telah melakukan penembakan berdarah di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di kota Christchurch sesaat sebelum jemaat menunaikan salat jumat.
Dari laporan dan penyelidikan polisi ditemukan motif di balik penyerangan tersebut, yakni ras. Dipahami kemudian, isu ras etno-nasionalisme menjadi latar belakang Brentont melakukan aksinya. Ia menganggap warga kulit putih sebagai penduduk strata atas yang sejatinya memegang kuasa tertinggi (supremasi) atas tanah, pekerjaan, dan lingkup sosial.
Sedangkan para pendatang atau imigran dianggapnya sebagai penduduk strata bawah dan merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup warga kulit putih.
Di Indonesia, isu ras tidak berdampak secara signifikan bagi masyarakat yang mengerti adanya perbedaan budaya, bahasa, dan warna kulit di wilayah nusantara ini. Namun, dampak signifikan dapat saja terjadi ketika peristiwa Selandia Baru dipolitisasi oleh sekelompok orang dengan tujuan politis semata.
D tengah perhelatan pilpres 2019 ini, suasana politik diketahui sedang memasuki titik didih. Peristiwa yang terjadi di saat-saat ini menjadi bahan krusial untuk menjaring suara dalam kontestasi ini.
Peristiwa Selandia Baru bagai alat pemantik di sebuah kilang minyak, yang sangat rentan untuk diledakkan. Motif yang diketahui sebagai ‘white supremacy’ pada peristiwa Selandia Baru dapat berubah menjadi isu agama yang merusak pluralisme bangsa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa Selandia Baru secara tidak langsung memberi peringatan kepada masyarakat Indonesia agar waspada dan memiliki semangat mempertahankan nilai-nilai pluralis ‘bhineka tunggal ika’ dengan mengedepankan ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kebijaksanaan, dan keadilan.
Memang bukan hal baru isu agama bertebaran di perpolitikan Indonesia, namun juga bukan berarti meremehkan isu tersebut di tengah tahun politik ini. Kewaspadaan dan sikap tidak acuh terhadap isu-isu yang menyulut sentimen agama adalah langkah awal menjaga ideologi bangsa yang pluralis ini.
Terorisme mungkin tidak akan pernah hilang dan menjadi cerita masa lalu belaka. Ia mungkin akan selalu ada dan menjadi bagian tak terelakkan dari suatu ideologi. Ideologi yang tidak akan pernah menjadi kesepakatan bersama karena dibangun dari perjuangan sekelompok orang untuk mengubah tatanan masyarakat, apalagi diperjuangkan melalui konflik berdarah.
***

Tulisan ini dimuat di pepnews.com

Kamis, 14 Maret 2019

Jejak digital



Apakah pernah mendengar istilah “Mulutmu, harimaumu? Setiap pembaca pasti telah tahu maksud dari kata-kata ini, yakni ajakan untuk berhati-hati dalam berkata-kata atau dengan kata lain segala perkataan yang dikeluarkan bila tidak dipikirkan dahulu maka dapat merugikan diri sendiri. Istilah ini sangat dekat dengan realita di mana setiap pikiran yang terbentuk dalam kata-kata akan memasuki tahap pembuktian, dalam arti perkataan yang terucapkan, secara disadari atau tidak, akan nampak dalam kenyataan. Misalnya, cerita tentang salah satu kebiasaan penduduk yang tinggal di kepulauan Solomon, Pasifik Selatan yang memiliki kebiasaan menarik, yakni meneriaki pohon. Kebiasaan ini mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak. Caranya, beberapa penduduk yang lebih kuat akan menaiki pohon itu dan bersama penduduk yang di bawah pohon bersama-sama meneriaki pohon itu. Mereka melakukan itu berjam-jam selama empat puluh hari. Alhasil, pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daun dan dahannya mulai mongering dan akhirnya mati sehingga mudah ditumbangkan.

Istilah “mulutmu, harimaumu” memperlihatkan rambu etika sosial yang mengajak kita mengembangkan sikap santun, hormat, dan bijak dalam berkata-kata terhadap siapapun, termasuk orang yang tidak sependapat dengan kita sekalipun. Bila rambu tersebut dilupakan atau sengaja dilanggar, secara langsung atau tidak, maka tahap pembuktian akan menampilkannya di kenyataan. Sebagai contoh, adanya suatu segmen yang ditayangkan oleh TVOne dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) beberapa waktu lalu dengan caption “Berebut Suara Ulama” yang dihadiri oleh nara sumber dari kubu petahana, Maman Imanulhaq, dan dari oposan, Eggi Sudjana. Ada salah satu momen krusial di acara tersebut yang menggelitik dada ini sekaligus juga menguatkan maksud dari istilah di atas. Pasalnya, segmen diskusi yang rencana didiakhiri oleh Eggi Sudjana dengan landing mulus dan membuat penumpang turun dengan lega menjadi pendaratan berbatu yang membuat penumpang trauma.

Awalnya berita dimulai dengan isu tentang pengaruh ulama dalam perolehan suara pilpres 2019, seperti Ustad Abdul Somad dan AA Gym yang dianggap keberpihakan mereka kepada salah satu kubu dapat memberi angin segar bagi kubu tersebut dan keresahan bagi kubu lainnya. Dalam diskusi disampaikan bahwa suara ulama sangat penting bagi kedua kubu, namun apakah cukup suara cukup signifikan bila telah ‘mengantongi’ suara ulama? Diakhir segmen, Maman Imanulhaq mengatakan “bagi kubu 01, Jokowi, kehadiran ulama dalam pentas politik ini menjadi kekuatan besar sehingga ulama-ulama yang menginginkan Indonesia lebih baik, optimis, dan sebagainya pasti akan dukung 01” Tiba giliran Eggi Sudjana berbicara, “Itu harapan boleh, tetapi faktanya, termasuk doa yang nilainya sangat spiritual ya, otaknya ibadah itu doa, mbah Maimun saja yang sudah diklaim kelompok sana doain kite gitu loh.. itu yang ngatur siapa? Ga mungkin kejadian tanpa seizin Allah, tidak mungkin... izin Allah! itu serius... jadi dengan pendekatan itu, apalagi Ijtima ulama udah ada dan ulama secara formil, saya sudah bilang, dan substansial dukungnya kosong satu (01).. ah kosong dua”

Eng.. ing.. eng atau berbagai emoticon ‘LOL’ dalam mesin komen medsos menyambut akhir dari pernyataan politikus PAN ini. Dapat terbayang bagaimana oposan melihat momen ini dan berupaya ‘menghilangkan’nya. Sekalipun demikian, jejak digital dapat kontraproduktif. Berusaha menjaring suara, namun terasa menjaring angin.

Menariknya adegan ‘salah ucap’ itu tidak banyak dipercakapkan di sosial media. Ia seakan-akan berlalu begitu saja, terdengar sesaat di telinga kemudian terkesan hilang. Ia seperti telah menjadi pembahasan yang, bila dapat dikatakan, membosankan untuk diperbincangkan lebih lanjut lagi. Ini dapat dimengerti karena berita-berita ‘blunder’ semacam itu terbilang cukup sering terjadi. Adapula dikarenakan sikap partisan pro pemerintah yang mudah memaafkan, seperti terlihat dari karakter Pakdhe Jokowi yang seakan-akan tidak mengindahkan cercaan dan fitnah yang menyerangnya, dan terus fokus pada motto “kerja, kerja, kerja”.
Dalam salah satu kesempatan, Pakdhe Jokowi mangatakan bahwa rakyat Indonesia harus memiliki sikap optimis menatap masa depan dan pikiran positif untuk bergerak maju. Bila diperhatikan sikap atau perkataan yang diucapkan Jokowi ini dan perkataan-perkataannya yang postif dan optimis sejak awal masa kepemimpinannya telah membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Hal ini berbanding terbalik dari sikap Eggi Sudjana yang menyinggung ‘salah ucap’ Mbah Maimun ketika mendoakan Jokowi, yang pada akhirnya ditutup dengan ‘salah ucap’nya yang akan menjadi catatan penting untuk menghapus ‘gorengan’ berita Mbah Maimun. Jejak digital bagi sebagian orang bermanfaat untuk kepentingan kemanusiaan, namun bagi sebagian lainnya menjadi alat yang menyakitkan. Seperti tikus yang berada dalam perangkapnya, demikian jejak digital bagi orang yang berkata-kata tanpa dipikirkannya lebih dahulu.


***

Sumber:
https://youtu.be/qplwnUCZ7wU


* Tulisan ini dimuat di pepnews.com

Selasa, 12 Maret 2019

Antara Mesin, Sistem, dan Manusia



Duka mendalam kembali terkuak ke permukaan alam sadar kita, sesaat mendengar berita jatuhnya pesawat Ethiopians Airlines senin,  11 Maret 2019 di wilayah Addis Ababa, Etiopia. Kejadian ini merupakan kali kedua dalam 5 bulan terakhir yang menelan ratusan jiwa. Sebelumnya maskapai penerbangan lokal Lion Air mengalami kecelakaan di daerah karawang, laut jawa 29 Oktober 2018 silam. Situasi ini tentunya menimbulkan duka mendalam di pihak keluarga korban dan menjadi catatan kelam dunia aviasi Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri trauma 5 bulan lalu kembali terulang dan membuka kembali ingatan kita tentang waktu ke waktu terpakai guna menemukan posisi jatuhnya pesawat hingga tahap mengidentifikasi korban. Peristiwa itu menimbulkan kesedihan dan kekuatiran terhadap maskapai penerbangan di Indonesia pada waktu itu.

Pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor registrasi ET-AVJ yang kehilangan kontak 6 menit setelah lepas landas diketahui jatuh di wilayah Addis Ababa, Etiopia merupakan tragedi transnasional di tahun ini. Beberapa negara bereaksi terkait persoalan mesin pesawat baru yang dibuat oleh perusahaan Boeing dengan nama Boeing 737 Max-8, adalah produk terbaru keluaran perusahaan yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat ini.

Setidaknya ada tiga dugaan yang dikaitkan sebagai penyebab tragedi tersebut. Pertama, tragedi di laut jawa dan Addis Ababa memiliki persoalan yang sama, yakni kedua pesawat tersebut menggunakan mesin Boeing 737 Max-8, keluaran teranyar pabrikan ini. Kedua, perkiraan dampak teknologi baru, yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), berfungsi mengukur ketinggian bagian hidung pesawat saat mengudara dan bila bagian hidung pesawat dianggap terlalu tinggi maka sistem tersebut secara otomatis akan menurunkan hidung pesawat, dan sistem ini secara teori bekerja pada transmisi auto-pilot. Apa yang terjadi saat bekerja pada transmisi manual? Belum ada penjelasan mengenai hal itu. Ketiga, kurangnya sosialisasi kepada para pilot Boeing mengenai cara menerbangkan Boeing 737 bermesin Max-8.

Keadaan ini membuat beberapa negara, termasuk Cina sebagai konsumen terbesar perusahaan Boeing ini, menghentikan pengoperasiannya terhadap pesawat Boeing 737 Max-8 untuk waktu yang tidak ditentukan. Indonesia pun mengikuti langkah Cina untuk menonaktifkan sementara pesawat-pesawat tersebut. Dari sisi bisnis jelas tidak menguntungkan kedua belah pihak; produsen dan konsumen, namun kebijakan negara-negara tersebut untuk menonaktifkan penggunaan pesawat bermesin Boeing 737 Max-8 ini, semata-mata murni persoalan keamanan.

Bila kita sedikit menarik diri dan menjaga jarak terhadap realita di hadapan kita, maka realita itu sendiri akan menyingkapkan dirinya yang sebenar-benarnya untuk kita. Berkaitan tiga dugaan di atas, penyebab tragedi itu diasumsikan berasal dari mesin, sistem, dan manusia.

 Di tengah jaman yang berkembang dengan masif melalui kemajuan teknologi sebagai tolok ukur modernisasi berpotensi mengarahkan manusia kepada perubahan iklim berpikir, dimana sistem komputerisasi dan mesin otomatis memiliki margin error yang jauh lebih kecil dibanding aktifitas yang dikerjakan secara manual oleh tangan manusia. Hal ini mendorong manusia cenderung mengupayakan sistem komputerisasi dan mesin otomatis untuk membantunya dalam pekerjaan daripada menggunakan tenaga manusia lainnya. Artinya, manusia lebih mempercayakan aktifitasnya kepada teknologi digital dan otomasi.

Disadari atau tidak, tingkat kepercayaan kepada sistem komputerisasi dan mesin otomatis pada masa kini semakin tinggi dibandingkan cara kerja yang dilakukan secara manual. Konsekuensi dari hal itu, bila sistem komputerisasi atau mesin otomatis mengalami malfunction, maka kompetensi manusia sebagai pembuat teknologi dipertanyakan. Dengan kata lain, manusia dipersalahkan karena telah membangun sistem dan mesin yang tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Manusia sedang menjadi objek pesakitan di tengah perkembangan digitalisasi dan otomasi yang masif ini.

Sekali lagi menjadi hal yang menyedihkan bahwa tragedi jatuhnya pesawat terulang kembali. Disayangkan pula kita tidak memperoleh informasi yang komprehensif terkait tragedi kecelakaan pesawat. Hal itu dimengerti sehubungan faktor psikologis dan ekonomis. Namun, akan menjadi sulit menjawab pertanyaan soal penyebab sebuah kecelakaan pesawat. Apakah dari mesin, sistem, atau manusia?

Antara mesin, sistem, dan manusia… kita tidak akan pernah tahu penyebabnya!

Jumat, 08 Maret 2019

Narasi Hitam


Dalam kurun waktu kurang dari 40 hari, dimulai saat tulisan ini dimuat, perhelatan pesta demokrasi 5 tahunan akan berlangsung. Masing-masing paslon tengah menjalani strategi menjaring suara pemilih. Tim kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'aruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, melalui mesin partai masing-masing, bergerak menyisir setiap pelosok daerah dan provinsi guna meyakinkan calon pemilih berpihak kepada paslon yang diusungnya.

Pergerakan ini jelas terlihat masif dan atraktif dengan jargon dan berita berisi kelebihan-kelebihan paslon yang diusungnya.

Ironisnya, cara-cara yang sebaiknya mengedepankan etika berpolitik secara jujur dan berintegritas telah tercederai oleh narasi 'hitam' yang sengaja dibangun untuk mendegradasi persepsi calon pemilih, salah satunya penyebaran berita-berita 'hoax' tentang isu-isu sosial, ideologi, dan agama.

Isu-isu ini masif dibicarakan di media online dan efektif menjaring sejumlah calon pemilih yang, bila dapat dikatakan, tidak kritis menyaring informasi yang diterimanya, layaknya menelan makanan tanpa perlu dikunyah terlebih dahulu.

Sejujurnya tidak mudah memang memilah antara informasi benar dan 'hoax' di tengah kecepatan akses informasi modern nan masif. Diperlukan usaha pembiasaan diri memeriksa kembali informasi yang diterima atau dibaca guna bertemu dengan fakta atau kebenaran sesungguhnya. Karena perlulah diketahui bahwa kecenderungan otak manusia dalam menerima informasi bersifat netral atau tidak memihak.

Pada awalnya, otak menerima informasi sebagaimana informasi itu adanya. Bila informasi yang diterimanya terus menerus berisi kebohongan maka otak akan menyimpulkannya sebagai suatu kredo. Oleh karenanya, perlu adanya langkah lanjutan yang bernama analisa-kritis terhadap informasi yang diterima untuk meminimalisasi ketidakakuratan informasi tersebut.

Strategi ini tengah dimainkan dalam kontestasi pilpres oleh oposan saat ini sebagai senjata pembunuh massal yang mampu menghancurkan kultur bangsa Indonesia yang toleran.

Sejatinya, pesta demokrasi 5 tahunan ini haruslah berlangsung jujur dan berintegritas tanpa menimbulkan keresahan masyarakat yang sedang terpolarisasi secara signifikan akibat narasi 'hitam' yang dibangun untuk kepentingan suatu kelompok yang tidak bertujuan membangun masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila

***
Tulisan ini dapat dibaca di pepnews.com

Minggu, 03 Maret 2019

Dunia kita berada

Dunia kita berada adalah dunia yang luar biasa. Setiap kehidupan diciptakan secara sistemik, berelasi sinergi, dan mendukung satu dan lainnya.

Dunia kita berada menunjukkan tatanan semesta, yang secara kodrati, membantu manusia mencapai panggilan tertingginya, yakni memaknai diri dalam dunia.

Dunia kita berada mengajar manusia cara ia memperlakukan lingkungannya; di rumah, tempat pekerjaan, atau pada setiap waktu ia berada.

Namun, dunia kita berada sedang kehilangan identitas keberadaan sejatinya. Ia menjadi tempat yang tidak lagi diharapkan oleh manusia yang putus asa, kecewa, sakit hati, dan lainnya. Ia kehilangan keberadaannya yang indah karena keengganan manusia memaknai diri secara bijaksana, yang enggan mengakui keterbatasannya sebagai bagian dari dirinya, yang menganggap kegagalan akibat kesalahan di luar dirinya, dan yang gagal mengakui kesuksesan dimilikinya sebagai bagian dari rahmat Tuhan.

Sesungguhnya, dunia kita berada sebagaimana adanya ia berada. Kegagalan, kekecewaan, kesedihan, kebahagiaan, dan kesuksesan merupakan bagian dari manusia memaknai dunia dengan pikiran dan tindakannya.

Di dalam itu semua, rahmatNya mendekati manusia melalui peristiwa yang dihadapi manusia. Ia memakai pikiran dan tindakan manusia untuk menyatakan keberadaanNya dan pemberian-pemberianNya dalam hidup manusia (gratia supponit naturam).

Dengan rahmatNya, Ia mendukung keberadaan manusia sebagaimana adanya. Melalui cara berpikir dan bertindak, manusia pada akhirnya akan mengakui keterbatasan dan pengandalannya terhadap Tuhan.

Dunia kita berada adalah dunia penuh rahmatNya.

Minggu, 17 Februari 2019

Sang Sutradara

Persiapan pementasan drama romansa sedang berlangsung. Seluruh kru, panitia, dan pemain sibuk mengatur panggung pertunjukan, penjualan tiket, tamu undangan hingga berlatih peran. Setiap rinci persiapannya diatur sebaik mungkin.

Sementara itu, di tengah panggung berukuran besar itu berdiri pria setengah baya mengenakan jaket jeans dan topi sebagai perpaduannya. Ia menundukkan kepala seakan sedang memperhatikan secarik kertas di genggamannya secara seksama, dan kehadirannya membuat seluruh kru dan pemain tertuju kepadanya saat ia berbicara. Suaranya yang rendah dan tegas menguatkan karakter seorang pemimpin berwibawa. Ia adalah sang sutradara pementasan itu.

Dengan kertas di genggamannya, ia mulai memperhatikan skenario yang akan dipentaskan, sambil bervisualisasi tentang bagaimana cerita itu berlangsung. Menyusun waktu, menyiapkan properti, melatih peran, dan lain sebagainya, sudah menjadi bagian kesehariannya. Ia seakan tahu atau bahkan telah menyaksikan pementasan itu terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke dalam pementasan yang sesungguhnya.  Dalam imajinasinya, pementasan itu telah hadir untuknya. 

Sang sutradara menyusun rinci cerita yang akan dilakukan oleh para pemilik peran yang dipilihnya, tentunya melalui beberapa tahapan, sehingga layak memainkan peran-peran yang tersedia, dan para pemeran akan melakoni perannya sesuai bangunan cerita yang telah tersusun dalam benak imajinasi sang sutradara.

Dan tibalah saatnya sang sutradara mempersembahkan daya imajinasinya dalam realita.

Setiap pemeran bersiap di belakang panggung yang tertutup kain hitam besar, dan diatasnya tergantung tulisan "Dunia yang kuhidupi". Itulah tema pementasan malam itu.

Diiringi alunan instrumentalia, pemeran utama memasuki panggung dengan sorot lampu tertuju kepadanya. Kata demi katanya mengiringi cerita yang berkisah tentang hidup manusia menyusuri bahagia dan derita dalam suatu pusaran cinta yang mendorong manusia mampu memaknai dirinya yang sebenar-benarnya.

Pemeran utama melakoni dirinya sebagai seorang yang tengah mencari arti diri dalam dunia. Di tengah jalan hidupnya, dia sadar banyaknya waktu, peristiwa, dan cinta telah hilang akibat pencarian arti dirinya dalam lingkungan dia hidup. Namun, keadaan itulah yang justru menyadarkannya arti diri, di mana diri harus bertemu realita yang mendorong dirinya memaknai waktu, peristiwa, dan cinta yang singgah di kehidupannya dengan sebenar-benarnya.

Menutup cerita itu, pemeran utama kembali berdiri seorang diri, menatap para penonton dan berkata, "Inilah dunia yang kuhidupi, adakah yang mengatur semua ini hingga aku mampu memaknai hidup?".

Lampu sorot meredup dan tepuk tangan riuh para penonton bersambut menutup cerita dalam pementasan itu. Para pemain keluar dan berdiri bersama memberi hormat dengan senyum kepuasan.

Sementara itu, berdiri di sisi kanan panggung, menatap para penonton dan para pemeran yang berada dalam ephoria akhir pementasan, sang sutradara tersenyum sambil memancarkan kekaguman di raut mukanya. Ia melihat sekeliling dan berharap agar semua yang hadir dan yang mengikuti cerita itu pulang dan mengingat akhir perkataan dari si pemeran utama, "adakah yang mengatur hidup ini hingga aku mampu memaknainya?".

Sang sutradara menyelesaikan tugasnya. Ia memberi kesempatan orang sekelilingnya berpikir bahwa kehidupan telah diciptakan sedemikian rupa sehingga manusia terdorong untuk memaknai dan, akhirnya, mengakui Tuhan sebagai pengatur dan penyusun cerita besar kehidupan manusia.

Tuhan, pada mulanya, menciptakan dunia selaras adanya. Substansi (inti) setiap ciptaanNya saling mempengaruhi satu dan lainnya. Saat terjadi perubahan, maka yang lainnya akan mengikuti perubahan tersebut. Keselarasan ini telah ditetapkanNya terlebih dahulu (Harmonia praestabilita).

Gottfried Wilhem Leibniz, dalam karyanya yang berjudul Theodicee (Keadilan Tuhan), menyatakan bahwa manusia hidup dalam dunia yang sebaik mungkin karena dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Sempurna. Semua yang diciptakanNya telah ditetapkan sebelumnya baik adanya. Bak seorang sutradara, mengatur rangkaian cerita sebelum dimulainya pementasan, begitupula Tuhan, Ia menentukan rangkaian keselarasan sebelum dimulainya kehidupan, Ia adalah penentu jalannya kehidupan, Ia adalah Sang Sutradara.

Minggu, 10 Februari 2019

Arloji

Pada masa kini, arloji ditemukan dalam dua ragam umum, yakni berbentuk digital, yang biasanya lebih banyak dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan seperti alarm, stopwatch, dan kalender. Sedangkan yang berbentuk analog, menunjukkan waktu dengan menggunakan jarum detik, menit, dan jam.

Menyelidiki atau mengamati jam kecil, yang biasa dipakai pada pergelangan tangan atau ditaruh dalam saku, yang dikenal sebagai arloji, bukanlah kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian orang. Mungkin pada saat pertama kali kita membeli arloji, kita mengamatinya dengan penuh perhatian, bagaimana pergerakan detik, menit, dan jam tersebut. Hampir tidak ada yang luput dari pengamatan. Namun, seiiring waktu, kita melihat arloji sebagaimana adanya, yakni sebuah arloji.

Sesungguhnya arloji merupakan bagian dari salah satu perangkat mekanik dalam mengenal waktu. Ia menunjuk kapan manusia dapat tidur, bangun, mandi, makan, minum, bekerja, bertemu keluarga, dan lainnya. Arloji juga bekerja dalam keselarasannya dengan waktu dan ditentukan terlebih dahulu sebelum ia digunakan.

Manusia berpadanan makna dengan cara kerja arloji. Manusia merupakan bagian dari substansi yang bergerak dalam dunia. Ia berada dalam keselarasan dengan dunia dan keselarasannya dengan dunia telah ditentukan sebelumnya (harmonia praestabilita).

Seperti arloji yang diselaraskan oleh suatu alat tertentu atau oleh si pembuat sehingga ditentukan selalu berjalan selaras dengan waktu, begitu pula manusia, ditentukan berselaras dengan dunia.

Selasa, 29 Januari 2019

Iman Kristen dan Perayaan Imlek

Dalam waktu dekat kita akan menyambut Tahun Baru Cina atau Imlek. Setiap tempat perbelanjaan mulai menjajakan pernak-pernak, seperti angpao, lampion, pohon Mei Hua, kue keranjang, dan sebagainya.

Menjelang hari H, warga Tionghoa mulai mengadakan persiapan, seperti bersih-bersih rumah, mengecat tembok dengan warna-warna cerah, dan menghias rumah dengan pernak-pernik Imlek. Pada saat perayaannya, banyak yang memanfaatkan waktu bertemu dengan keluarga besar.

Namun ada juga yang tidak turut merayakannya karena perbedaan keyakinan. Walaupun ada orang Kristen yang turut bersukacita dalam perayaan ini, adapula yang tidak. Hal ini dikarenakan bahwa perayaan Imlek tidak sesuai dengan firman Tuhan. Apakah demikian?

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa latar belakang perayaan ini diawali kisah-kisah yang bersifat mitos yang tentunya tidak sesuai dengan cara pandang iman kristen.
Tradisi pemasangan lampion dan penyalaan petasan untuk mengusir roh-roh jahat memang bertentangan dengan Alkitab. Bersih-bersih rumah dan pengecetan rumah dengan warna-warna cerah yang bertujuan untuk mengusir nasib sial, juga tidak berpadanan dengan iman kristen.

Apakah dengan itu semua, kita menolak perayaan Imlek? Jelas tidak. Karena perlu dipahami bahwa orang Kristen dipanggil untuk mengubah suatu budaya sehingga dapat memenuhi nilai-nilai keimanan kristen.Tidak ada budaya dimanapun yang bebas dari persoalan dosa. Tiap-tiap budaya memiliki bagian-bagian tertentu yg bersinggungan dengan dosa.

Tugas dan panggilan orang kristen bukan meniadakan semua bagian-bagian yang bersinggungan dengan dosa, melainkan mengubah bagian-bagian itu dengan kebenaran firman Allah.

Kita dipanggil untuk menyampaikan nilai-nilai kekristenan dan memasukkannya ke dalam budaya atau memberi landasan filosofi kristiani pada masing-masing bagian dari budaya tersebut.

Sebagai saksi Kristus di tengah dunia, orang kristen dipanggil untuk mengadaptasi budaya di mana pun kita berada. Kita berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, dengan cara menghargai budaya setempat.

Dalam 1 Kor 9:19-23, Paulus merelakan dirinya menjadi segalanya agar memenangkan jiwa dan demi Injil Yesus Kristus. Di sini, apakah Paulus mengikuti hidup seperti orang lain secara mutlak? Tentu tidak! Ia juga menegur jemaat yang hidup seperti orang-orang dunia. Paulus hanya mengikuti praktek-praktek tertentu dalam beragama yang ia temui sejauh hal itu tidak berdosa. Jika suatu praktek sudah salah, dari sisi konsep maupun praktek, maka jelas hal itu tidak boleh diikuti. Misalnya, praktek penyembahan dewa-dewa berwujud patung di kuil-kuil berhala pada zaman Paulus.

Namun, bila makan bersama keluarga dan berbagi angpao itu sendiri tidak keliru.
Kita memang perlu menyediakan waktu berkumpul bersama keluarga, berbagi kasih, dan saling menguatkan satu dan lainnya. Begitu pula pemberian angpao, misalnya, adalah prinsip iman kristen dalam hal memberi.

Yang terpenting, kita tidak mempercayai mitos-mitos di balik praktek-praktek perayaan itu. Beberapa hal yang dapat menjadi batu sandungan bagi sesama orang Kristen sebaiknya dihindari, seperti gambar naga, walaupun pada dirinya sendiri itu hanyalah sebuah seni lukis.

Sikap yang bijak, bila kita turut merayakannya, adalah merayakan dengan konsep yang kristiani dan memanfaatkannya untuk memberitakan iman.

Iman Kristen hidup dalam tradisi, dan melaluinya jiwa dimenangkan.

Minggu, 27 Januari 2019

Tuhan yang melampaui

Seorang teolog kristen Renaisans asal Irlandia, John Scotus Eriugena (810-877), dalam salah satu karyanya, Pseudo-Dionysius, menggambarkan Tuhan dengan metode via negativa atau paradoks.

Ia menyatakan bahwa Tuhan tidak bisa dipahami, tidak bijaksana, tidak ada, bahkan tidak mengada (eksis). Hal itu dikarenakan bahwa pernyataan-pernyataan diatas menunjukkan keterbatasan.

Sejatinya, Tuhan melampaui deskripsi, bahkan melampaui kategori pemikiran manusia. Sebagai contoh, bila kita mengatakan bahwa Tuhan kreatif, kita salah, karena sama kreatifNya seperti yang kita pahami. Ketika kita menyatakan bahwa Tuhan tidak kreatif, kita juga salah, karena itu menunjukkan keterbatasan.

Dalam metode ini, kita tidak mengatakan apa itu Tuhan, tetapi apa yang bukan Dirinya. Bahkan salah mengatakan bahwa Tuhan itu ada, karena ada adalah kategori yang menggambarkan realitas yang diciptakan.

Dengan demikian, pernyataan "Tuhan tidak bisa dipahami" berarti Tuhan melampaui yang dapat kita pahami. Tuhan tidak bijaksana, Ia melampaui kebijaksanaan itu sendiri. Tuhan tidak ada, Ia melampaui dari apa yang kita pahami. Ia bukanlah sebuah objek. Modus eksistensinya berbeda dari kita. Jika Tuhan tidak ada, maka Dia sekaligus segalanya. Oleh karena itu, setiap ciptaanNya adalah sebuah teofani atau tanda kehadiranNya.

Dia adalah Tuhan yang melampaui.

Manusia yang memaknai

Setiap waktu kita berhadapan dengan keputusan-keputusan. Terkadang kita harus mengambil keputusan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Di akhir, kita tetap mengambil keputusan kendati keputusannya adalah tidak memutuskan.

Keputusan menikah, melanjutkan studi, membersihkan rumah di hari libur, hingga makan dan minum adalah keputusan yang diambil oleh setiap kita. Tidak bisa tidak. Keputusan diambil karena harus demikian adanya, dan itu membuat ia menjadi sebenar-benarnya makhluk berpengetahuan.

Adakalanya kita mengetahui keputusan, yang kita yakin, benar adanya namun keputusan yang kita ambil itu malah berujung pada penderitaan.

Mungkin kita akan bertanya, apakah kita bisa mengetahui keputusan yang kita ambil benar dan bisa berujung pada kesuksesan, dan bukan pada penderitaan?

Patutlah dimengerti bila setiap keputusan memiliki nilai konsekuensi, seperti aksi menimbulkan reaksi. Di sini, pemaknaan dalam diri manusia berperan. Manusia memiliki kemampuan untuk memberi makna dalam kesehariannya. Ia melihat kursi dan memahami benda itu untuk diduduki. Ia memandang awan mendung dan menyatakan akan turun hujan. Cuaca cerah dan pemandangan indah pegunungan mengungkapkan rasa kagum dalam hatinya atas kebaikan Tuhan. Di sini, manusia memberi makna kepada kehidupannya.

Sebenarnya, darimana 'makna' berawal? Bila berbicara tentang kata 'makna' itu sendiri, berarti pengertian, arti, atau maksud. Namun dalam dimensi kosmos, sesungguhnya, ia tidak dapat dimengerti oleh akal (rasio) semata karena ia tidak berbentuk persona, ia tidak terlihat namun ada, ia mengada namun tidak terpahami, ia memberi paham namun tidak dipahami.

Sesungguhnya, makna berdialog dan mewujud, pertama-tama, dalam sistem kepercayaan manusia, yakni iman dan bersinergi melalui akal (rasio) dan memberi jawab terhadap kehidupan manusia dan manusia yang mengada (bereksistensi) sesungguhnya adalah manusia yang memaknai kesehariannya.

Sabtu, 26 Januari 2019

Makhluk berpengetahuan

Tentunya semua tahu bahwa segala tindakan kita dipengaruhi cara berpikir kita. Kita berpikir bahwa kita mengetahui suatu hal dan merealisasikannya ke dalam suatu tindakan. Misalkan, seorang mencari lilin saat lampu tiba-tiba padam dikarenakan ia mengetahui terang sedang dibutuhkannya saat itu, mengerjakan tugas dengan cepat karena tahu bahwa waktu akhir pengumpulan tugasnya sudah dekat, dan sebagainya. Di sini, dapat ditarik benang merah bahwa kita adalah makhluk berpengetahuan.

Untuk mengetahui mengapa kita disebut makhluk berpengetahuan, marilah sekilas menyelisik kata dasar dari 'makhluk' dan 'pengetahuan' tersebut. Dalam Kamus KBBI makhluk diartikan sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Sedangkan 'pengetahuan' diartikan sebagai kepandaian, yakni kemampuan manusia memahami segala sesuatu yang diketahuinya. Lalu darimana kepandaian atau pengetahuan itu berasal?

Pada ranah filsafat, di masa kini, pengetahuan berasal dari akal (rasio) dan pengalaman (empirik). Kendati pada abad 17, rasionalisme dan empirisme saling bertentangan, dimana rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal (rasio), dan pengalaman hanya dapat meneguhkan pengetahuan yang sudah didapat dari akal (rasio). Sedangkan empirisme berpendapat bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan, baik yang batiniah maupun lahiriah, dan akal mendapat tugas hanya untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman. Namun, rasio dan pengalaman, yang diakui kemudian, memiliki keterbatasannya itu dituntut untuk saling melengkapi satu dan lainnya.

Di sisi lain, dalam ranah teologi, sumber pengetahuan tidak pertama-tama berasal dari akal dan pengalaman, melainkan berawal dari takut akan Tuhan, "Fear of the LORD is the foundation of true knowledge" (Proverbs 1:7a). Takut kepada Tuhan berkait erat dengan penghormatan setinggi-tingginya atau kekaguman yang bergentar karena kesucian dan keagunganNya yang tiada terukur dan berbanding itu, dan di titik ini manusia dituntut untuk mengakui keberadaannya sebagai ciptaan dan bukan sang Pencipta.

Pengakuan inilah yang mengantar manusia menjadi makhluk berpengetahuan.

Sabtu, 19 Januari 2019

Satu

Satu dapat berarti angka pertama dalam suatu himpunan bilangan. Satu juga berarti ketidakterpisahan, melekat, atau mandiri. Pembatasan definisi diatas berupaya menyeragamkan persepsi bahwa judul itu merujuk kepada upaya menemukan kesepahaman perbedaan dari pandangan atau sistem kepercayaan yang dianut.

Dengan kata lain, judul diatas menyiratkan keinginan akan kebebasan dari pertikaian yang diakibatkan adanya perbedaan. Perbedaan itu sendiri berarti beragamnya keyakinan di masyarakat dalam melihat suatu persoalan. Persoalan di sini berkaitan dengan pokok pembahasan yang dipahami berbeda oleh masyarakat.

Salah satu persoalan yang tengah terjadi dalam masyarakat modern adalah komunikasi. Mengakses berita dalam dan luar negeri sangat mudah didapatkan. Melalui internet setiap masyarakat dapat mencari berita yang diinginkannya, seperti berita olahraga, gaya hidup, teknologi, hingga politik. Dengan adanya kemudahan menerima informasi, masyarakat modern juga ditantang untuk menyikapi persoalan yang ditimbulkan dalam mengakses informasi.

Akibat yang paling menonjol di masa kini, adanya berita hoax, informasi tidak berdasar atau bohong. Masyarakat tengah berhadapan dengan informasi yang membutuhkan langkah verifikasi guna memperoleh fakta aktual.
Hal yang paling menarik sedang terjadi di masyarakat Indonesia, sebenarnya, mengenai peredaran berita-berita hoax seputar politik di media sosial. Masyarakat saat ini sedang terpolarisasi dalam menyampaikan aspirasi dukungan terhadap pasangan calon presiden. Segala upaya dilakukan untuk mendudukkan pilihannya di kursi nomor satu Indonesia.

Secara bergantian, para pendukung paslon saling bekerja mempublikasikan keunggulan-keunggulan pilihan mereka dan bersamaan pula membeberkan kelemahan-kelemahan lawannya, bahkan 'saling serang' melalui tulisan-tulisan provokatif dan hoax yang menyulut kemarahan satu dan lainnya, menjadi konsumsi harian sebagian besar masyarakat Indonesia

Terlintas pertanyaan, mengapa terjadi polarisasi yang, tidak jarang, menimbulkan 'hate speech', hoax atau aksi 'saling serang' lainnya? Tentunya, selain aspek politis yang dapat menjawab pertanyaan ini. Aspek lainnya dapat melalui pemahaman tentang lingkungan komunikatif masyarakat.

Sesungguhnya masyarakat modern adalah masyarakat pluralis yang berupaya dalam aktifitasnya sehari-hari memiliki kecenderungan memahami lingkungannya, yang ditandai dengan tercapainya kesatuan "bahasa". Yang dimaksud bahasa artinya masing-masing individu dapat memiliki pandangannya sendiri. Di sana terjadi debat dan diskursus, perbedaan dan kesatuan paham, dan akan bermuara kepada pengertian. Sedangkan individu dari lingkungan lain tidak dapat berkomunikasi karena tidak mengerti. Di sinilah mengapa lingkungan komunikatif mempengaruhi terbentuknya polarisasi.

Lalu bagaimana mengatasinya? Perlu dipahami bahwa lingkungan komunikatif terbagi tiga dan saling berlintasan.

1. Lingkungan rasionalitas ilmiah. Lingkungan ini adalah lingkungan komunikatif para ahli dari bidang ilmu yang sama. Di sini setiap individu yang berbeda agama bahkan ateis pun dapat berkomunikasi dengan lancar secara bermakna.

2. Lingkungan kesamaan agama. Lingkungan ini tentunya adalah lingkungan individu yang beragama sama. Di lingkungan ini, masing-masing dapat menentukan sendiri kepada siapa dia ingin bergaul. Penentuan ini didasarkan faktor saling senang dan bukan karena bertemu di kantor, sekolah, atau sebagai tetangga.

3. Lingkungan kesatuan nilai-nilai dasar. Lingkungan ini adalah pertemuan orang awam dan para ahli dalam bidang yang berbeda-beda. Di sini, antar individu memiliki kesatuan nilai-nilai kemanusiaan yang universal; HAM, demokrasi, keadilan sosial, penuntasan kemiskinan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, persoalan dalam masyarakat, secara khusus upaya menurunkan intensitas ketegangan antar kelompok yang bertegangan sebenarnya dapat diupayakan dengan jalan penyatuan "bahasa" yakni memahami adanya perbedaan pandangan dan ketiga aspek lingkungan komunikatif.

Andai masing-masing individu tidak berkomunikasi hanya melalui lingkungan persamaan agama saja, maka dapat dipastikan tidak akan adanya berita atau isu komunis di media sosial yang berpotensi merusak keberagaman agama di Indonesia.

Andai setiap individu meletakkan rasionalitasnya pada upaya-upaya pencapaian kesatuan nilai-nilai universal, maka masyarakat Indonesia diakui sebagai masyarakat modern, yang walaupun berbeda dalam pendapat, tetapi satu dalam kesamaan nilai-nilai dasar manusia. Ya! Satu!