Senin, 14 Januari 2019

Aku di sana

Pernahkah mendengar orang berkata, "kamu mengerti maksudku? " "tidak, bukan itu maksudku!", "Bisa tolong diulangi?", "Saya yakin anda keliru!"? dan lainnya. Pengulangan satu-dua kali tidak menjadi masalah bagi kebanyakan orang, namun akan terasa sulit bila mengulang kata yang diucapkan untuk ketiga kalinya, karena mungkin yang terakhir itu tertinggal emosi saja.

Senang rasanya membayangkan orang mengerti dengan cepat, namun kenyataan berkata lain.

Sungguh, janganlah menyalahkan bunda mengandung bila seseorang tidak mengerti pesan yang dilihat atau didengarnya. Ya! Itu bisa terjadi kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Bahkan ia seorang guru, dosen sekalipun, yang kebanyakan waktunya berbicara di depan murid atau mahasiswanya, pekerja profesional, atau mungkin seorang ahli di bidang ilmu komunikasi, dapat saja menemukan momentum gagal paham terhadap bahasa lisan atau tulisan.

Hal umum yang biasanya terjadi, selain artikulasi pengucapan, adalah pemahaman konteks. Bahasa lisan atau tulisan selalu memiliki maksud atau makna tersirat, untuk memahaminya dibutuhkan konteks, yakni suatu uraian yang dapat mendukung kejelasan pesan yang disampaikan. Seorang berkata "Indonesia siap punya presiden yang baik!". Terkesan pernyataan ini kurang jelas, membingungkan, dan mendatangkan pertanyaan, "Apakah presiden Indonesia bukan orang baik?" atau "Apakah selama ini tidak ada presiden di Indonesia yang baik?". Di sini persoalan timbul akibat pernyataan di atas. Sesungguhnya, bila menelusuri konteks pernyataan tersebut, maka ditemukan pesan itu berpusat pada persiapan pemilihan presiden yang akan bergulir dalam waktu dekat ini. Si pembicara mengajak masyarakat memilih presiden sesuai hati nurani dan pilihan mereka adalah yang baik untuk Indonesia. Begitulah kira-kira konteks pernyataan di atas.

Sama halnya dengan karya tulis, yang memiliki latar belakang budaya, politik, sosial atau tradisi setempat si penulis. Bila mencoba memahami konteksnya, maka tulisan sang penulis dapat dipahami dengan baik.

Cara memahami percakapan si pembicara atau tulisan si penulis adalah dengan memberi diri berada dalam pusaran kata demi kata, menemukan ketertarikan, emosi, dan tujuan tersirat dari si pembicara atau si penulis.

Nah, sepertinya artikel ini sama sekali tidak berhubungan dengan judulnya "Aku di sana". Ya! Itu benar. Mengapa? Karena "Aku di sana" bukanlah objek dari tulisan ini, melainkan subjek atau si pembaca tulisan ini sendiri.
"Aku di sana" adalah si pembaca tulisan ini. Ketika pembaca melihat judul di atas dan mulai melihat isinya, maka pembaca telah berada dalam pusaran kata dari tulisan ini. Memahami tujuan tersirat dan mungkin emosi dari tulisan ini.
Bila pembaca memahami dan menemukan pesan tersirat dari tulisan diatas, maka pembaca memahami arti dari judul "Aku di sana".