Selasa, 29 Januari 2019

Iman Kristen dan Perayaan Imlek

Dalam waktu dekat kita akan menyambut Tahun Baru Cina atau Imlek. Setiap tempat perbelanjaan mulai menjajakan pernak-pernak, seperti angpao, lampion, pohon Mei Hua, kue keranjang, dan sebagainya.

Menjelang hari H, warga Tionghoa mulai mengadakan persiapan, seperti bersih-bersih rumah, mengecat tembok dengan warna-warna cerah, dan menghias rumah dengan pernak-pernik Imlek. Pada saat perayaannya, banyak yang memanfaatkan waktu bertemu dengan keluarga besar.

Namun ada juga yang tidak turut merayakannya karena perbedaan keyakinan. Walaupun ada orang Kristen yang turut bersukacita dalam perayaan ini, adapula yang tidak. Hal ini dikarenakan bahwa perayaan Imlek tidak sesuai dengan firman Tuhan. Apakah demikian?

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa latar belakang perayaan ini diawali kisah-kisah yang bersifat mitos yang tentunya tidak sesuai dengan cara pandang iman kristen.
Tradisi pemasangan lampion dan penyalaan petasan untuk mengusir roh-roh jahat memang bertentangan dengan Alkitab. Bersih-bersih rumah dan pengecetan rumah dengan warna-warna cerah yang bertujuan untuk mengusir nasib sial, juga tidak berpadanan dengan iman kristen.

Apakah dengan itu semua, kita menolak perayaan Imlek? Jelas tidak. Karena perlu dipahami bahwa orang Kristen dipanggil untuk mengubah suatu budaya sehingga dapat memenuhi nilai-nilai keimanan kristen.Tidak ada budaya dimanapun yang bebas dari persoalan dosa. Tiap-tiap budaya memiliki bagian-bagian tertentu yg bersinggungan dengan dosa.

Tugas dan panggilan orang kristen bukan meniadakan semua bagian-bagian yang bersinggungan dengan dosa, melainkan mengubah bagian-bagian itu dengan kebenaran firman Allah.

Kita dipanggil untuk menyampaikan nilai-nilai kekristenan dan memasukkannya ke dalam budaya atau memberi landasan filosofi kristiani pada masing-masing bagian dari budaya tersebut.

Sebagai saksi Kristus di tengah dunia, orang kristen dipanggil untuk mengadaptasi budaya di mana pun kita berada. Kita berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, dengan cara menghargai budaya setempat.

Dalam 1 Kor 9:19-23, Paulus merelakan dirinya menjadi segalanya agar memenangkan jiwa dan demi Injil Yesus Kristus. Di sini, apakah Paulus mengikuti hidup seperti orang lain secara mutlak? Tentu tidak! Ia juga menegur jemaat yang hidup seperti orang-orang dunia. Paulus hanya mengikuti praktek-praktek tertentu dalam beragama yang ia temui sejauh hal itu tidak berdosa. Jika suatu praktek sudah salah, dari sisi konsep maupun praktek, maka jelas hal itu tidak boleh diikuti. Misalnya, praktek penyembahan dewa-dewa berwujud patung di kuil-kuil berhala pada zaman Paulus.

Namun, bila makan bersama keluarga dan berbagi angpao itu sendiri tidak keliru.
Kita memang perlu menyediakan waktu berkumpul bersama keluarga, berbagi kasih, dan saling menguatkan satu dan lainnya. Begitu pula pemberian angpao, misalnya, adalah prinsip iman kristen dalam hal memberi.

Yang terpenting, kita tidak mempercayai mitos-mitos di balik praktek-praktek perayaan itu. Beberapa hal yang dapat menjadi batu sandungan bagi sesama orang Kristen sebaiknya dihindari, seperti gambar naga, walaupun pada dirinya sendiri itu hanyalah sebuah seni lukis.

Sikap yang bijak, bila kita turut merayakannya, adalah merayakan dengan konsep yang kristiani dan memanfaatkannya untuk memberitakan iman.

Iman Kristen hidup dalam tradisi, dan melaluinya jiwa dimenangkan.