Sabtu, 26 Januari 2019

Makhluk berpengetahuan

Tentunya semua tahu bahwa segala tindakan kita dipengaruhi cara berpikir kita. Kita berpikir bahwa kita mengetahui suatu hal dan merealisasikannya ke dalam suatu tindakan. Misalkan, seorang mencari lilin saat lampu tiba-tiba padam dikarenakan ia mengetahui terang sedang dibutuhkannya saat itu, mengerjakan tugas dengan cepat karena tahu bahwa waktu akhir pengumpulan tugasnya sudah dekat, dan sebagainya. Di sini, dapat ditarik benang merah bahwa kita adalah makhluk berpengetahuan.

Untuk mengetahui mengapa kita disebut makhluk berpengetahuan, marilah sekilas menyelisik kata dasar dari 'makhluk' dan 'pengetahuan' tersebut. Dalam Kamus KBBI makhluk diartikan sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Sedangkan 'pengetahuan' diartikan sebagai kepandaian, yakni kemampuan manusia memahami segala sesuatu yang diketahuinya. Lalu darimana kepandaian atau pengetahuan itu berasal?

Pada ranah filsafat, di masa kini, pengetahuan berasal dari akal (rasio) dan pengalaman (empirik). Kendati pada abad 17, rasionalisme dan empirisme saling bertentangan, dimana rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal (rasio), dan pengalaman hanya dapat meneguhkan pengetahuan yang sudah didapat dari akal (rasio). Sedangkan empirisme berpendapat bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan, baik yang batiniah maupun lahiriah, dan akal mendapat tugas hanya untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman. Namun, rasio dan pengalaman, yang diakui kemudian, memiliki keterbatasannya itu dituntut untuk saling melengkapi satu dan lainnya.

Di sisi lain, dalam ranah teologi, sumber pengetahuan tidak pertama-tama berasal dari akal dan pengalaman, melainkan berawal dari takut akan Tuhan, "Fear of the LORD is the foundation of true knowledge" (Proverbs 1:7a). Takut kepada Tuhan berkait erat dengan penghormatan setinggi-tingginya atau kekaguman yang bergentar karena kesucian dan keagunganNya yang tiada terukur dan berbanding itu, dan di titik ini manusia dituntut untuk mengakui keberadaannya sebagai ciptaan dan bukan sang Pencipta.

Pengakuan inilah yang mengantar manusia menjadi makhluk berpengetahuan.