Minggu, 27 Januari 2019

Manusia yang memaknai

Setiap waktu kita berhadapan dengan keputusan-keputusan. Terkadang kita harus mengambil keputusan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Di akhir, kita tetap mengambil keputusan kendati keputusannya adalah tidak memutuskan.

Keputusan menikah, melanjutkan studi, membersihkan rumah di hari libur, hingga makan dan minum adalah keputusan yang diambil oleh setiap kita. Tidak bisa tidak. Keputusan diambil karena harus demikian adanya, dan itu membuat ia menjadi sebenar-benarnya makhluk berpengetahuan.

Adakalanya kita mengetahui keputusan, yang kita yakin, benar adanya namun keputusan yang kita ambil itu malah berujung pada penderitaan.

Mungkin kita akan bertanya, apakah kita bisa mengetahui keputusan yang kita ambil benar dan bisa berujung pada kesuksesan, dan bukan pada penderitaan?

Patutlah dimengerti bila setiap keputusan memiliki nilai konsekuensi, seperti aksi menimbulkan reaksi. Di sini, pemaknaan dalam diri manusia berperan. Manusia memiliki kemampuan untuk memberi makna dalam kesehariannya. Ia melihat kursi dan memahami benda itu untuk diduduki. Ia memandang awan mendung dan menyatakan akan turun hujan. Cuaca cerah dan pemandangan indah pegunungan mengungkapkan rasa kagum dalam hatinya atas kebaikan Tuhan. Di sini, manusia memberi makna kepada kehidupannya.

Sebenarnya, darimana 'makna' berawal? Bila berbicara tentang kata 'makna' itu sendiri, berarti pengertian, arti, atau maksud. Namun dalam dimensi kosmos, sesungguhnya, ia tidak dapat dimengerti oleh akal (rasio) semata karena ia tidak berbentuk persona, ia tidak terlihat namun ada, ia mengada namun tidak terpahami, ia memberi paham namun tidak dipahami.

Sesungguhnya, makna berdialog dan mewujud, pertama-tama, dalam sistem kepercayaan manusia, yakni iman dan bersinergi melalui akal (rasio) dan memberi jawab terhadap kehidupan manusia dan manusia yang mengada (bereksistensi) sesungguhnya adalah manusia yang memaknai kesehariannya.