Sabtu, 19 Januari 2019

Satu

Satu dapat berarti angka pertama dalam suatu himpunan bilangan. Satu juga berarti ketidakterpisahan, melekat, atau mandiri. Pembatasan definisi diatas berupaya menyeragamkan persepsi bahwa judul itu merujuk kepada upaya menemukan kesepahaman perbedaan dari pandangan atau sistem kepercayaan yang dianut.

Dengan kata lain, judul diatas menyiratkan keinginan akan kebebasan dari pertikaian yang diakibatkan adanya perbedaan. Perbedaan itu sendiri berarti beragamnya keyakinan di masyarakat dalam melihat suatu persoalan. Persoalan di sini berkaitan dengan pokok pembahasan yang dipahami berbeda oleh masyarakat.

Salah satu persoalan yang tengah terjadi dalam masyarakat modern adalah komunikasi. Mengakses berita dalam dan luar negeri sangat mudah didapatkan. Melalui internet setiap masyarakat dapat mencari berita yang diinginkannya, seperti berita olahraga, gaya hidup, teknologi, hingga politik. Dengan adanya kemudahan menerima informasi, masyarakat modern juga ditantang untuk menyikapi persoalan yang ditimbulkan dalam mengakses informasi.

Akibat yang paling menonjol di masa kini, adanya berita hoax, informasi tidak berdasar atau bohong. Masyarakat tengah berhadapan dengan informasi yang membutuhkan langkah verifikasi guna memperoleh fakta aktual.
Hal yang paling menarik sedang terjadi di masyarakat Indonesia, sebenarnya, mengenai peredaran berita-berita hoax seputar politik di media sosial. Masyarakat saat ini sedang terpolarisasi dalam menyampaikan aspirasi dukungan terhadap pasangan calon presiden. Segala upaya dilakukan untuk mendudukkan pilihannya di kursi nomor satu Indonesia.

Secara bergantian, para pendukung paslon saling bekerja mempublikasikan keunggulan-keunggulan pilihan mereka dan bersamaan pula membeberkan kelemahan-kelemahan lawannya, bahkan 'saling serang' melalui tulisan-tulisan provokatif dan hoax yang menyulut kemarahan satu dan lainnya, menjadi konsumsi harian sebagian besar masyarakat Indonesia

Terlintas pertanyaan, mengapa terjadi polarisasi yang, tidak jarang, menimbulkan 'hate speech', hoax atau aksi 'saling serang' lainnya? Tentunya, selain aspek politis yang dapat menjawab pertanyaan ini. Aspek lainnya dapat melalui pemahaman tentang lingkungan komunikatif masyarakat.

Sesungguhnya masyarakat modern adalah masyarakat pluralis yang berupaya dalam aktifitasnya sehari-hari memiliki kecenderungan memahami lingkungannya, yang ditandai dengan tercapainya kesatuan "bahasa". Yang dimaksud bahasa artinya masing-masing individu dapat memiliki pandangannya sendiri. Di sana terjadi debat dan diskursus, perbedaan dan kesatuan paham, dan akan bermuara kepada pengertian. Sedangkan individu dari lingkungan lain tidak dapat berkomunikasi karena tidak mengerti. Di sinilah mengapa lingkungan komunikatif mempengaruhi terbentuknya polarisasi.

Lalu bagaimana mengatasinya? Perlu dipahami bahwa lingkungan komunikatif terbagi tiga dan saling berlintasan.

1. Lingkungan rasionalitas ilmiah. Lingkungan ini adalah lingkungan komunikatif para ahli dari bidang ilmu yang sama. Di sini setiap individu yang berbeda agama bahkan ateis pun dapat berkomunikasi dengan lancar secara bermakna.

2. Lingkungan kesamaan agama. Lingkungan ini tentunya adalah lingkungan individu yang beragama sama. Di lingkungan ini, masing-masing dapat menentukan sendiri kepada siapa dia ingin bergaul. Penentuan ini didasarkan faktor saling senang dan bukan karena bertemu di kantor, sekolah, atau sebagai tetangga.

3. Lingkungan kesatuan nilai-nilai dasar. Lingkungan ini adalah pertemuan orang awam dan para ahli dalam bidang yang berbeda-beda. Di sini, antar individu memiliki kesatuan nilai-nilai kemanusiaan yang universal; HAM, demokrasi, keadilan sosial, penuntasan kemiskinan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, persoalan dalam masyarakat, secara khusus upaya menurunkan intensitas ketegangan antar kelompok yang bertegangan sebenarnya dapat diupayakan dengan jalan penyatuan "bahasa" yakni memahami adanya perbedaan pandangan dan ketiga aspek lingkungan komunikatif.

Andai masing-masing individu tidak berkomunikasi hanya melalui lingkungan persamaan agama saja, maka dapat dipastikan tidak akan adanya berita atau isu komunis di media sosial yang berpotensi merusak keberagaman agama di Indonesia.

Andai setiap individu meletakkan rasionalitasnya pada upaya-upaya pencapaian kesatuan nilai-nilai universal, maka masyarakat Indonesia diakui sebagai masyarakat modern, yang walaupun berbeda dalam pendapat, tetapi satu dalam kesamaan nilai-nilai dasar manusia. Ya! Satu!