Minggu, 27 Januari 2019

Tuhan yang melampaui

Seorang teolog kristen Renaisans asal Irlandia, John Scotus Eriugena (810-877), dalam salah satu karyanya, Pseudo-Dionysius, menggambarkan Tuhan dengan metode via negativa atau paradoks.

Ia menyatakan bahwa Tuhan tidak bisa dipahami, tidak bijaksana, tidak ada, bahkan tidak mengada (eksis). Hal itu dikarenakan bahwa pernyataan-pernyataan diatas menunjukkan keterbatasan.

Sejatinya, Tuhan melampaui deskripsi, bahkan melampaui kategori pemikiran manusia. Sebagai contoh, bila kita mengatakan bahwa Tuhan kreatif, kita salah, karena sama kreatifNya seperti yang kita pahami. Ketika kita menyatakan bahwa Tuhan tidak kreatif, kita juga salah, karena itu menunjukkan keterbatasan.

Dalam metode ini, kita tidak mengatakan apa itu Tuhan, tetapi apa yang bukan Dirinya. Bahkan salah mengatakan bahwa Tuhan itu ada, karena ada adalah kategori yang menggambarkan realitas yang diciptakan.

Dengan demikian, pernyataan "Tuhan tidak bisa dipahami" berarti Tuhan melampaui yang dapat kita pahami. Tuhan tidak bijaksana, Ia melampaui kebijaksanaan itu sendiri. Tuhan tidak ada, Ia melampaui dari apa yang kita pahami. Ia bukanlah sebuah objek. Modus eksistensinya berbeda dari kita. Jika Tuhan tidak ada, maka Dia sekaligus segalanya. Oleh karena itu, setiap ciptaanNya adalah sebuah teofani atau tanda kehadiranNya.

Dia adalah Tuhan yang melampaui.