Minggu, 17 Februari 2019

Sang Sutradara

Persiapan pementasan drama romansa sedang berlangsung. Seluruh kru, panitia, dan pemain sibuk mengatur panggung pertunjukan, penjualan tiket, tamu undangan hingga berlatih peran. Setiap rinci persiapannya diatur sebaik mungkin.

Sementara itu, di tengah panggung berukuran besar itu berdiri pria setengah baya mengenakan jaket jeans dan topi sebagai perpaduannya. Ia menundukkan kepala seakan sedang memperhatikan secarik kertas di genggamannya secara seksama, dan kehadirannya membuat seluruh kru dan pemain tertuju kepadanya saat ia berbicara. Suaranya yang rendah dan tegas menguatkan karakter seorang pemimpin berwibawa. Ia adalah sang sutradara pementasan itu.

Dengan kertas di genggamannya, ia mulai memperhatikan skenario yang akan dipentaskan, sambil bervisualisasi tentang bagaimana cerita itu berlangsung. Menyusun waktu, menyiapkan properti, melatih peran, dan lain sebagainya, sudah menjadi bagian kesehariannya. Ia seakan tahu atau bahkan telah menyaksikan pementasan itu terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke dalam pementasan yang sesungguhnya.  Dalam imajinasinya, pementasan itu telah hadir untuknya. 

Sang sutradara menyusun rinci cerita yang akan dilakukan oleh para pemilik peran yang dipilihnya, tentunya melalui beberapa tahapan, sehingga layak memainkan peran-peran yang tersedia, dan para pemeran akan melakoni perannya sesuai bangunan cerita yang telah tersusun dalam benak imajinasi sang sutradara.

Dan tibalah saatnya sang sutradara mempersembahkan daya imajinasinya dalam realita.

Setiap pemeran bersiap di belakang panggung yang tertutup kain hitam besar, dan diatasnya tergantung tulisan "Dunia yang kuhidupi". Itulah tema pementasan malam itu.

Diiringi alunan instrumentalia, pemeran utama memasuki panggung dengan sorot lampu tertuju kepadanya. Kata demi katanya mengiringi cerita yang berkisah tentang hidup manusia menyusuri bahagia dan derita dalam suatu pusaran cinta yang mendorong manusia mampu memaknai dirinya yang sebenar-benarnya.

Pemeran utama melakoni dirinya sebagai seorang yang tengah mencari arti diri dalam dunia. Di tengah jalan hidupnya, dia sadar banyaknya waktu, peristiwa, dan cinta telah hilang akibat pencarian arti dirinya dalam lingkungan dia hidup. Namun, keadaan itulah yang justru menyadarkannya arti diri, di mana diri harus bertemu realita yang mendorong dirinya memaknai waktu, peristiwa, dan cinta yang singgah di kehidupannya dengan sebenar-benarnya.

Menutup cerita itu, pemeran utama kembali berdiri seorang diri, menatap para penonton dan berkata, "Inilah dunia yang kuhidupi, adakah yang mengatur semua ini hingga aku mampu memaknai hidup?".

Lampu sorot meredup dan tepuk tangan riuh para penonton bersambut menutup cerita dalam pementasan itu. Para pemain keluar dan berdiri bersama memberi hormat dengan senyum kepuasan.

Sementara itu, berdiri di sisi kanan panggung, menatap para penonton dan para pemeran yang berada dalam ephoria akhir pementasan, sang sutradara tersenyum sambil memancarkan kekaguman di raut mukanya. Ia melihat sekeliling dan berharap agar semua yang hadir dan yang mengikuti cerita itu pulang dan mengingat akhir perkataan dari si pemeran utama, "adakah yang mengatur hidup ini hingga aku mampu memaknainya?".

Sang sutradara menyelesaikan tugasnya. Ia memberi kesempatan orang sekelilingnya berpikir bahwa kehidupan telah diciptakan sedemikian rupa sehingga manusia terdorong untuk memaknai dan, akhirnya, mengakui Tuhan sebagai pengatur dan penyusun cerita besar kehidupan manusia.

Tuhan, pada mulanya, menciptakan dunia selaras adanya. Substansi (inti) setiap ciptaanNya saling mempengaruhi satu dan lainnya. Saat terjadi perubahan, maka yang lainnya akan mengikuti perubahan tersebut. Keselarasan ini telah ditetapkanNya terlebih dahulu (Harmonia praestabilita).

Gottfried Wilhem Leibniz, dalam karyanya yang berjudul Theodicee (Keadilan Tuhan), menyatakan bahwa manusia hidup dalam dunia yang sebaik mungkin karena dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Sempurna. Semua yang diciptakanNya telah ditetapkan sebelumnya baik adanya. Bak seorang sutradara, mengatur rangkaian cerita sebelum dimulainya pementasan, begitupula Tuhan, Ia menentukan rangkaian keselarasan sebelum dimulainya kehidupan, Ia adalah penentu jalannya kehidupan, Ia adalah Sang Sutradara.