Minggu, 31 Maret 2019

Bahagia itu suatu cara pandang



Percakapan bersama teman-teman tentang hal-hal yang ditangkap oleh ingatan saat itu, mengenai peristiwa masa lalu atau yang sedang berlangsung, diselingi cerita lucu, epos, hingga cerita yang membuat dahi berkerut, dapat menyuguhkan impresi yang disebut kebahagiaan. Keindahan objek  hasil tangkapan mata seperti bunga, rumput hijau, langit biru, dan bintang di malam hari turut memperlihatkan bahwa arti kebahagiaan ditemukan sejauh mata memandang.

Kebahagiaan itu sendiri dikenal melalui cara manusia memandang ke dalam atau di luar dirinya. Ke dalam diri melalui waktu permenungan dan di luar diri melalui interaksi sosialnya. Artinya, kebahagiaan dinilai dekat atau tidak dengan hidup manusia itu ditentukan oleh cara manusia melihat diri dan lingkungannya. Kebahagiaan terlihat dan terasa dekat namun juga tidak terlihat dan terkesan jauh, dapat dilihat dan disentuh namun juga tidak dapat terlihat dan disentuh. Itu semua dipengaruhi perspektif manusia terhadap dunianya.

Suatu kali saya menghadiri acara pernikahan seorang teman ‘seperjuangan’. Selayaknya teman dekat, saya hadir di acara tersebut. Namun bukan sekedar nilai pertemanan saya hadir melainkan tindakannya dalam mempersiapkan dan membagikan undangan ke setiap rekan-rekan di tempat kerjanya. Undangan itu terkesan istimewa karena berbentuk undangan pribadi, dicetak dengan nama masing-masing rekannya, dan diletakkan di setiap meja mereka. Bukankah itu sudah seharusnya demikian? Ya, dan saya menemukan momen sederhana itu yang menunjukkan kebahagiaan tersendiri.

Melihat kebahagiaan dari rinci peristiwa yang sedang berlangsung, bukanlah hal mudah untuk disadari dan diingat. Keberadaannya seringkali sulit disadari dan terlupakan oleh keseharian manusia. Lalu bagaimana menemukan kebahagiaan dalam keseharian kita? Ada beberapa perspektif kebahagiaan yang setidaknya ditemukan dalam keseharian kita.

Pertama, kebahagiaan dirasakan tatkala kita memperhatikan bahwa perlunya menjaga kesehatan, memperhatikan pola makan, mengolah tubuh agar memiliki tubuh yang segar dan bugar. Memperhatikan kulit wajah agar terlihat berseri, mengobati luka akibat tergores oleh benda tajam dan sembuh darinya, minum vitamin pembangkit stamina dan aktif berolah raga, dan kegiatan yang berkenaan dengan fisik lainnya. Itu adalah kebahagiaan yang pertama yang dapat kita pikirkan, lihat, dan perhatikan dan kebahagiaan ini disebut kebahagiaan fisik.

Kedua, kebahagiaan di saat kita sedang membaca suatu buku dan menyelesaikannya. Membaca membawa kita mendapati pengetahuan atau pemahaman tentang dunia dan realita di dalamnya. Membaca membawa manusia memperoleh tingkat kebahagiaan karena mengetahui hal-hal yang hanya dapat diperoleh dari bahan bacaan. Begitupula dengan menulis, ia turut membawa manusia dalam kebahagiaan karena menuangkan konsep pemikiran terdalam yang terkadang sulit tersampaikan secara verbal. Kebahagiaan kedua ini disebut kebahagiaan intelektual.

Ketiga, kebahagiaan melihat dekorasi yang menarik di mall, rumah, atau jalanan yang tertata indah, cahaya warna-warni di jalan saat sedang menuju tempat tujuan, melihat pemandangan gunung yang dikelilingi perkebunan teh, sungai jernih yang mengalir tenang di dalam hutan, pantai berpasir putih ditemani ombak laut menggulung teratur, dan sebagainya. Kebahagiaan ini disebut kebahagiaan estetik.

Keempat, kebahagiaan dalam memberikan sesuatu kepada seorang yang membutuhkan, memberi senyum kepada orang lain tatkala tiada menerima balas, memotivasi seorang yang membutuhkan penguatan mental di tengah persoalan yang dihadapinya, membantu seorang menyeberang jalan, dan sebagainya. Kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan moral.

Kelima, kebahagiaan menyadari bahwa Tuhan mengasihi manusia tanpa menuntut balas, memahami hidup adalah pemberianNya yang patut disyukuri, dan meyakini bahwa kehidupan kita di dunia memiliki tujuan memuliakan Dia, Sang Pencipta. Sebenarnya kebahagiaan ini yang harus menjadi pusat dari segala bentuk kebahagiaan. Relasi manusia dan Sang Pencipta sejatinya adalah kebahagiaan sesungguhnya, karena manusia memiliki kemampuan dariNya untuk memaknai hidup karena tanpa pemaknaan hidup, segalanya terlihat tidak berguna. Segala yang tidak bermakna dan berguna bukanlah arah menuju kebahagiaan. Hubungan yang terbangun antara Tuhan sebagai Sang Pencipta segala yang ada, atau dikatakan berada, dengan manusia sebagai salah satu ciptaanNya, bahkan dapat dikatakan, puncak dari ciptaanNya memberi kebahagiaan mengalir ke dalam ruang kosong manusia yang hanya dapat terisi oleh kebahagiaan rohani ini.

Alam pegunungan, laut luas samudera, langit biru dan sekumpulan awan, bumi mengeluarkan tunas, pohon dan buahnya mengajak alam pikir manusia mengungkapkan Tuhan yang jauh di atas sana dapat terlihat dalam jarak pandang kita. Kebahagiaan itu sederhana, ia bergantung dari bagaimana cara kita melihat dunia dan cara pandang tersebut dapat dinikmati ketika relasi kita dan Tuhan terproses dalam keseharian kita.

***

Tulisan ini tayang di kompasiana.com

Senin, 18 Maret 2019

Tragedi di Selandia Baru dan Impian "White Supremacy"

Seperti tidak pernah selesai mendengar berita tentang terorisme. Dalam kurun waktu satu tahun ini tidak kurang dari tiga peristiwa terorisme terjadi di dunia. Di awal 2018, New York Times  merilis berita tentang penembakan yang dilakukan oleh seorang pria pada sebuah sekolah di Parkland, Florida, AS.
Kemudian, di penghujung 2018, Guardian mengabarkan seorang pria menembaki orang yang berada di dekat pasar malam di Strasbourg, Perancis. Namun, yang masih segar dalam ingatan masyarakat Indonesia adalah peristiwa pemboman di Surabaya pertengahan 2018 silam yang dilakukan oleh satu keluarga, dan menambah catatan kelam sejarah Indonesia menghadapi terorisme.
Hari jumat 15 Maret 2019, alih-alih mendengar berita penyejuk jiwa nan inspiratif agar menjadi pribadi baik dalam keseharian, malah tersentak melihat video kiriman teman yang berisi aksi teror yang dilakukan secara sadar dan didokumentasikan secara live oleh seorang pria bernama Brentont Tarrant. Ia telah melakukan penembakan berdarah di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di kota Christchurch sesaat sebelum jemaat menunaikan salat jumat.
Dari laporan dan penyelidikan polisi ditemukan motif di balik penyerangan tersebut, yakni ras. Dipahami kemudian, isu ras etno-nasionalisme menjadi latar belakang Brentont melakukan aksinya. Ia menganggap warga kulit putih sebagai penduduk strata atas yang sejatinya memegang kuasa tertinggi (supremasi) atas tanah, pekerjaan, dan lingkup sosial.
Sedangkan para pendatang atau imigran dianggapnya sebagai penduduk strata bawah dan merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup warga kulit putih.
Di Indonesia, isu ras tidak berdampak secara signifikan bagi masyarakat yang mengerti adanya perbedaan budaya, bahasa, dan warna kulit di wilayah nusantara ini. Namun, dampak signifikan dapat saja terjadi ketika peristiwa Selandia Baru dipolitisasi oleh sekelompok orang dengan tujuan politis semata.
D tengah perhelatan pilpres 2019 ini, suasana politik diketahui sedang memasuki titik didih. Peristiwa yang terjadi di saat-saat ini menjadi bahan krusial untuk menjaring suara dalam kontestasi ini.
Peristiwa Selandia Baru bagai alat pemantik di sebuah kilang minyak, yang sangat rentan untuk diledakkan. Motif yang diketahui sebagai ‘white supremacy’ pada peristiwa Selandia Baru dapat berubah menjadi isu agama yang merusak pluralisme bangsa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa Selandia Baru secara tidak langsung memberi peringatan kepada masyarakat Indonesia agar waspada dan memiliki semangat mempertahankan nilai-nilai pluralis ‘bhineka tunggal ika’ dengan mengedepankan ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kebijaksanaan, dan keadilan.
Memang bukan hal baru isu agama bertebaran di perpolitikan Indonesia, namun juga bukan berarti meremehkan isu tersebut di tengah tahun politik ini. Kewaspadaan dan sikap tidak acuh terhadap isu-isu yang menyulut sentimen agama adalah langkah awal menjaga ideologi bangsa yang pluralis ini.
Terorisme mungkin tidak akan pernah hilang dan menjadi cerita masa lalu belaka. Ia mungkin akan selalu ada dan menjadi bagian tak terelakkan dari suatu ideologi. Ideologi yang tidak akan pernah menjadi kesepakatan bersama karena dibangun dari perjuangan sekelompok orang untuk mengubah tatanan masyarakat, apalagi diperjuangkan melalui konflik berdarah.
***

Tulisan ini dimuat di pepnews.com

Kamis, 14 Maret 2019

Jejak digital



Apakah pernah mendengar istilah “Mulutmu, harimaumu? Setiap pembaca pasti telah tahu maksud dari kata-kata ini, yakni ajakan untuk berhati-hati dalam berkata-kata atau dengan kata lain segala perkataan yang dikeluarkan bila tidak dipikirkan dahulu maka dapat merugikan diri sendiri. Istilah ini sangat dekat dengan realita di mana setiap pikiran yang terbentuk dalam kata-kata akan memasuki tahap pembuktian, dalam arti perkataan yang terucapkan, secara disadari atau tidak, akan nampak dalam kenyataan. Misalnya, cerita tentang salah satu kebiasaan penduduk yang tinggal di kepulauan Solomon, Pasifik Selatan yang memiliki kebiasaan menarik, yakni meneriaki pohon. Kebiasaan ini mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak. Caranya, beberapa penduduk yang lebih kuat akan menaiki pohon itu dan bersama penduduk yang di bawah pohon bersama-sama meneriaki pohon itu. Mereka melakukan itu berjam-jam selama empat puluh hari. Alhasil, pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daun dan dahannya mulai mongering dan akhirnya mati sehingga mudah ditumbangkan.

Istilah “mulutmu, harimaumu” memperlihatkan rambu etika sosial yang mengajak kita mengembangkan sikap santun, hormat, dan bijak dalam berkata-kata terhadap siapapun, termasuk orang yang tidak sependapat dengan kita sekalipun. Bila rambu tersebut dilupakan atau sengaja dilanggar, secara langsung atau tidak, maka tahap pembuktian akan menampilkannya di kenyataan. Sebagai contoh, adanya suatu segmen yang ditayangkan oleh TVOne dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) beberapa waktu lalu dengan caption “Berebut Suara Ulama” yang dihadiri oleh nara sumber dari kubu petahana, Maman Imanulhaq, dan dari oposan, Eggi Sudjana. Ada salah satu momen krusial di acara tersebut yang menggelitik dada ini sekaligus juga menguatkan maksud dari istilah di atas. Pasalnya, segmen diskusi yang rencana didiakhiri oleh Eggi Sudjana dengan landing mulus dan membuat penumpang turun dengan lega menjadi pendaratan berbatu yang membuat penumpang trauma.

Awalnya berita dimulai dengan isu tentang pengaruh ulama dalam perolehan suara pilpres 2019, seperti Ustad Abdul Somad dan AA Gym yang dianggap keberpihakan mereka kepada salah satu kubu dapat memberi angin segar bagi kubu tersebut dan keresahan bagi kubu lainnya. Dalam diskusi disampaikan bahwa suara ulama sangat penting bagi kedua kubu, namun apakah cukup suara cukup signifikan bila telah ‘mengantongi’ suara ulama? Diakhir segmen, Maman Imanulhaq mengatakan “bagi kubu 01, Jokowi, kehadiran ulama dalam pentas politik ini menjadi kekuatan besar sehingga ulama-ulama yang menginginkan Indonesia lebih baik, optimis, dan sebagainya pasti akan dukung 01” Tiba giliran Eggi Sudjana berbicara, “Itu harapan boleh, tetapi faktanya, termasuk doa yang nilainya sangat spiritual ya, otaknya ibadah itu doa, mbah Maimun saja yang sudah diklaim kelompok sana doain kite gitu loh.. itu yang ngatur siapa? Ga mungkin kejadian tanpa seizin Allah, tidak mungkin... izin Allah! itu serius... jadi dengan pendekatan itu, apalagi Ijtima ulama udah ada dan ulama secara formil, saya sudah bilang, dan substansial dukungnya kosong satu (01).. ah kosong dua”

Eng.. ing.. eng atau berbagai emoticon ‘LOL’ dalam mesin komen medsos menyambut akhir dari pernyataan politikus PAN ini. Dapat terbayang bagaimana oposan melihat momen ini dan berupaya ‘menghilangkan’nya. Sekalipun demikian, jejak digital dapat kontraproduktif. Berusaha menjaring suara, namun terasa menjaring angin.

Menariknya adegan ‘salah ucap’ itu tidak banyak dipercakapkan di sosial media. Ia seakan-akan berlalu begitu saja, terdengar sesaat di telinga kemudian terkesan hilang. Ia seperti telah menjadi pembahasan yang, bila dapat dikatakan, membosankan untuk diperbincangkan lebih lanjut lagi. Ini dapat dimengerti karena berita-berita ‘blunder’ semacam itu terbilang cukup sering terjadi. Adapula dikarenakan sikap partisan pro pemerintah yang mudah memaafkan, seperti terlihat dari karakter Pakdhe Jokowi yang seakan-akan tidak mengindahkan cercaan dan fitnah yang menyerangnya, dan terus fokus pada motto “kerja, kerja, kerja”.
Dalam salah satu kesempatan, Pakdhe Jokowi mangatakan bahwa rakyat Indonesia harus memiliki sikap optimis menatap masa depan dan pikiran positif untuk bergerak maju. Bila diperhatikan sikap atau perkataan yang diucapkan Jokowi ini dan perkataan-perkataannya yang postif dan optimis sejak awal masa kepemimpinannya telah membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Hal ini berbanding terbalik dari sikap Eggi Sudjana yang menyinggung ‘salah ucap’ Mbah Maimun ketika mendoakan Jokowi, yang pada akhirnya ditutup dengan ‘salah ucap’nya yang akan menjadi catatan penting untuk menghapus ‘gorengan’ berita Mbah Maimun. Jejak digital bagi sebagian orang bermanfaat untuk kepentingan kemanusiaan, namun bagi sebagian lainnya menjadi alat yang menyakitkan. Seperti tikus yang berada dalam perangkapnya, demikian jejak digital bagi orang yang berkata-kata tanpa dipikirkannya lebih dahulu.


***

Sumber:
https://youtu.be/qplwnUCZ7wU


* Tulisan ini dimuat di pepnews.com

Selasa, 12 Maret 2019

Antara Mesin, Sistem, dan Manusia



Duka mendalam kembali terkuak ke permukaan alam sadar kita, sesaat mendengar berita jatuhnya pesawat Ethiopians Airlines senin,  11 Maret 2019 di wilayah Addis Ababa, Etiopia. Kejadian ini merupakan kali kedua dalam 5 bulan terakhir yang menelan ratusan jiwa. Sebelumnya maskapai penerbangan lokal Lion Air mengalami kecelakaan di daerah karawang, laut jawa 29 Oktober 2018 silam. Situasi ini tentunya menimbulkan duka mendalam di pihak keluarga korban dan menjadi catatan kelam dunia aviasi Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri trauma 5 bulan lalu kembali terulang dan membuka kembali ingatan kita tentang waktu ke waktu terpakai guna menemukan posisi jatuhnya pesawat hingga tahap mengidentifikasi korban. Peristiwa itu menimbulkan kesedihan dan kekuatiran terhadap maskapai penerbangan di Indonesia pada waktu itu.

Pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor registrasi ET-AVJ yang kehilangan kontak 6 menit setelah lepas landas diketahui jatuh di wilayah Addis Ababa, Etiopia merupakan tragedi transnasional di tahun ini. Beberapa negara bereaksi terkait persoalan mesin pesawat baru yang dibuat oleh perusahaan Boeing dengan nama Boeing 737 Max-8, adalah produk terbaru keluaran perusahaan yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat ini.

Setidaknya ada tiga dugaan yang dikaitkan sebagai penyebab tragedi tersebut. Pertama, tragedi di laut jawa dan Addis Ababa memiliki persoalan yang sama, yakni kedua pesawat tersebut menggunakan mesin Boeing 737 Max-8, keluaran teranyar pabrikan ini. Kedua, perkiraan dampak teknologi baru, yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), berfungsi mengukur ketinggian bagian hidung pesawat saat mengudara dan bila bagian hidung pesawat dianggap terlalu tinggi maka sistem tersebut secara otomatis akan menurunkan hidung pesawat, dan sistem ini secara teori bekerja pada transmisi auto-pilot. Apa yang terjadi saat bekerja pada transmisi manual? Belum ada penjelasan mengenai hal itu. Ketiga, kurangnya sosialisasi kepada para pilot Boeing mengenai cara menerbangkan Boeing 737 bermesin Max-8.

Keadaan ini membuat beberapa negara, termasuk Cina sebagai konsumen terbesar perusahaan Boeing ini, menghentikan pengoperasiannya terhadap pesawat Boeing 737 Max-8 untuk waktu yang tidak ditentukan. Indonesia pun mengikuti langkah Cina untuk menonaktifkan sementara pesawat-pesawat tersebut. Dari sisi bisnis jelas tidak menguntungkan kedua belah pihak; produsen dan konsumen, namun kebijakan negara-negara tersebut untuk menonaktifkan penggunaan pesawat bermesin Boeing 737 Max-8 ini, semata-mata murni persoalan keamanan.

Bila kita sedikit menarik diri dan menjaga jarak terhadap realita di hadapan kita, maka realita itu sendiri akan menyingkapkan dirinya yang sebenar-benarnya untuk kita. Berkaitan tiga dugaan di atas, penyebab tragedi itu diasumsikan berasal dari mesin, sistem, dan manusia.

 Di tengah jaman yang berkembang dengan masif melalui kemajuan teknologi sebagai tolok ukur modernisasi berpotensi mengarahkan manusia kepada perubahan iklim berpikir, dimana sistem komputerisasi dan mesin otomatis memiliki margin error yang jauh lebih kecil dibanding aktifitas yang dikerjakan secara manual oleh tangan manusia. Hal ini mendorong manusia cenderung mengupayakan sistem komputerisasi dan mesin otomatis untuk membantunya dalam pekerjaan daripada menggunakan tenaga manusia lainnya. Artinya, manusia lebih mempercayakan aktifitasnya kepada teknologi digital dan otomasi.

Disadari atau tidak, tingkat kepercayaan kepada sistem komputerisasi dan mesin otomatis pada masa kini semakin tinggi dibandingkan cara kerja yang dilakukan secara manual. Konsekuensi dari hal itu, bila sistem komputerisasi atau mesin otomatis mengalami malfunction, maka kompetensi manusia sebagai pembuat teknologi dipertanyakan. Dengan kata lain, manusia dipersalahkan karena telah membangun sistem dan mesin yang tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Manusia sedang menjadi objek pesakitan di tengah perkembangan digitalisasi dan otomasi yang masif ini.

Sekali lagi menjadi hal yang menyedihkan bahwa tragedi jatuhnya pesawat terulang kembali. Disayangkan pula kita tidak memperoleh informasi yang komprehensif terkait tragedi kecelakaan pesawat. Hal itu dimengerti sehubungan faktor psikologis dan ekonomis. Namun, akan menjadi sulit menjawab pertanyaan soal penyebab sebuah kecelakaan pesawat. Apakah dari mesin, sistem, atau manusia?

Antara mesin, sistem, dan manusia… kita tidak akan pernah tahu penyebabnya!

Jumat, 08 Maret 2019

Narasi Hitam


Dalam kurun waktu kurang dari 40 hari, dimulai saat tulisan ini dimuat, perhelatan pesta demokrasi 5 tahunan akan berlangsung. Masing-masing paslon tengah menjalani strategi menjaring suara pemilih. Tim kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'aruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, melalui mesin partai masing-masing, bergerak menyisir setiap pelosok daerah dan provinsi guna meyakinkan calon pemilih berpihak kepada paslon yang diusungnya.

Pergerakan ini jelas terlihat masif dan atraktif dengan jargon dan berita berisi kelebihan-kelebihan paslon yang diusungnya.

Ironisnya, cara-cara yang sebaiknya mengedepankan etika berpolitik secara jujur dan berintegritas telah tercederai oleh narasi 'hitam' yang sengaja dibangun untuk mendegradasi persepsi calon pemilih, salah satunya penyebaran berita-berita 'hoax' tentang isu-isu sosial, ideologi, dan agama.

Isu-isu ini masif dibicarakan di media online dan efektif menjaring sejumlah calon pemilih yang, bila dapat dikatakan, tidak kritis menyaring informasi yang diterimanya, layaknya menelan makanan tanpa perlu dikunyah terlebih dahulu.

Sejujurnya tidak mudah memang memilah antara informasi benar dan 'hoax' di tengah kecepatan akses informasi modern nan masif. Diperlukan usaha pembiasaan diri memeriksa kembali informasi yang diterima atau dibaca guna bertemu dengan fakta atau kebenaran sesungguhnya. Karena perlulah diketahui bahwa kecenderungan otak manusia dalam menerima informasi bersifat netral atau tidak memihak.

Pada awalnya, otak menerima informasi sebagaimana informasi itu adanya. Bila informasi yang diterimanya terus menerus berisi kebohongan maka otak akan menyimpulkannya sebagai suatu kredo. Oleh karenanya, perlu adanya langkah lanjutan yang bernama analisa-kritis terhadap informasi yang diterima untuk meminimalisasi ketidakakuratan informasi tersebut.

Strategi ini tengah dimainkan dalam kontestasi pilpres oleh oposan saat ini sebagai senjata pembunuh massal yang mampu menghancurkan kultur bangsa Indonesia yang toleran.

Sejatinya, pesta demokrasi 5 tahunan ini haruslah berlangsung jujur dan berintegritas tanpa menimbulkan keresahan masyarakat yang sedang terpolarisasi secara signifikan akibat narasi 'hitam' yang dibangun untuk kepentingan suatu kelompok yang tidak bertujuan membangun masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila

***
Tulisan ini dapat dibaca di pepnews.com

Minggu, 03 Maret 2019

Dunia kita berada

Dunia kita berada adalah dunia yang luar biasa. Setiap kehidupan diciptakan secara sistemik, berelasi sinergi, dan mendukung satu dan lainnya.

Dunia kita berada menunjukkan tatanan semesta, yang secara kodrati, membantu manusia mencapai panggilan tertingginya, yakni memaknai diri dalam dunia.

Dunia kita berada mengajar manusia cara ia memperlakukan lingkungannya; di rumah, tempat pekerjaan, atau pada setiap waktu ia berada.

Namun, dunia kita berada sedang kehilangan identitas keberadaan sejatinya. Ia menjadi tempat yang tidak lagi diharapkan oleh manusia yang putus asa, kecewa, sakit hati, dan lainnya. Ia kehilangan keberadaannya yang indah karena keengganan manusia memaknai diri secara bijaksana, yang enggan mengakui keterbatasannya sebagai bagian dari dirinya, yang menganggap kegagalan akibat kesalahan di luar dirinya, dan yang gagal mengakui kesuksesan dimilikinya sebagai bagian dari rahmat Tuhan.

Sesungguhnya, dunia kita berada sebagaimana adanya ia berada. Kegagalan, kekecewaan, kesedihan, kebahagiaan, dan kesuksesan merupakan bagian dari manusia memaknai dunia dengan pikiran dan tindakannya.

Di dalam itu semua, rahmatNya mendekati manusia melalui peristiwa yang dihadapi manusia. Ia memakai pikiran dan tindakan manusia untuk menyatakan keberadaanNya dan pemberian-pemberianNya dalam hidup manusia (gratia supponit naturam).

Dengan rahmatNya, Ia mendukung keberadaan manusia sebagaimana adanya. Melalui cara berpikir dan bertindak, manusia pada akhirnya akan mengakui keterbatasan dan pengandalannya terhadap Tuhan.

Dunia kita berada adalah dunia penuh rahmatNya.