Selasa, 12 Maret 2019

Antara Mesin, Sistem, dan Manusia



Duka mendalam kembali terkuak ke permukaan alam sadar kita, sesaat mendengar berita jatuhnya pesawat Ethiopians Airlines senin,  11 Maret 2019 di wilayah Addis Ababa, Etiopia. Kejadian ini merupakan kali kedua dalam 5 bulan terakhir yang menelan ratusan jiwa. Sebelumnya maskapai penerbangan lokal Lion Air mengalami kecelakaan di daerah karawang, laut jawa 29 Oktober 2018 silam. Situasi ini tentunya menimbulkan duka mendalam di pihak keluarga korban dan menjadi catatan kelam dunia aviasi Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri trauma 5 bulan lalu kembali terulang dan membuka kembali ingatan kita tentang waktu ke waktu terpakai guna menemukan posisi jatuhnya pesawat hingga tahap mengidentifikasi korban. Peristiwa itu menimbulkan kesedihan dan kekuatiran terhadap maskapai penerbangan di Indonesia pada waktu itu.

Pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor registrasi ET-AVJ yang kehilangan kontak 6 menit setelah lepas landas diketahui jatuh di wilayah Addis Ababa, Etiopia merupakan tragedi transnasional di tahun ini. Beberapa negara bereaksi terkait persoalan mesin pesawat baru yang dibuat oleh perusahaan Boeing dengan nama Boeing 737 Max-8, adalah produk terbaru keluaran perusahaan yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat ini.

Setidaknya ada tiga dugaan yang dikaitkan sebagai penyebab tragedi tersebut. Pertama, tragedi di laut jawa dan Addis Ababa memiliki persoalan yang sama, yakni kedua pesawat tersebut menggunakan mesin Boeing 737 Max-8, keluaran teranyar pabrikan ini. Kedua, perkiraan dampak teknologi baru, yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), berfungsi mengukur ketinggian bagian hidung pesawat saat mengudara dan bila bagian hidung pesawat dianggap terlalu tinggi maka sistem tersebut secara otomatis akan menurunkan hidung pesawat, dan sistem ini secara teori bekerja pada transmisi auto-pilot. Apa yang terjadi saat bekerja pada transmisi manual? Belum ada penjelasan mengenai hal itu. Ketiga, kurangnya sosialisasi kepada para pilot Boeing mengenai cara menerbangkan Boeing 737 bermesin Max-8.

Keadaan ini membuat beberapa negara, termasuk Cina sebagai konsumen terbesar perusahaan Boeing ini, menghentikan pengoperasiannya terhadap pesawat Boeing 737 Max-8 untuk waktu yang tidak ditentukan. Indonesia pun mengikuti langkah Cina untuk menonaktifkan sementara pesawat-pesawat tersebut. Dari sisi bisnis jelas tidak menguntungkan kedua belah pihak; produsen dan konsumen, namun kebijakan negara-negara tersebut untuk menonaktifkan penggunaan pesawat bermesin Boeing 737 Max-8 ini, semata-mata murni persoalan keamanan.

Bila kita sedikit menarik diri dan menjaga jarak terhadap realita di hadapan kita, maka realita itu sendiri akan menyingkapkan dirinya yang sebenar-benarnya untuk kita. Berkaitan tiga dugaan di atas, penyebab tragedi itu diasumsikan berasal dari mesin, sistem, dan manusia.

 Di tengah jaman yang berkembang dengan masif melalui kemajuan teknologi sebagai tolok ukur modernisasi berpotensi mengarahkan manusia kepada perubahan iklim berpikir, dimana sistem komputerisasi dan mesin otomatis memiliki margin error yang jauh lebih kecil dibanding aktifitas yang dikerjakan secara manual oleh tangan manusia. Hal ini mendorong manusia cenderung mengupayakan sistem komputerisasi dan mesin otomatis untuk membantunya dalam pekerjaan daripada menggunakan tenaga manusia lainnya. Artinya, manusia lebih mempercayakan aktifitasnya kepada teknologi digital dan otomasi.

Disadari atau tidak, tingkat kepercayaan kepada sistem komputerisasi dan mesin otomatis pada masa kini semakin tinggi dibandingkan cara kerja yang dilakukan secara manual. Konsekuensi dari hal itu, bila sistem komputerisasi atau mesin otomatis mengalami malfunction, maka kompetensi manusia sebagai pembuat teknologi dipertanyakan. Dengan kata lain, manusia dipersalahkan karena telah membangun sistem dan mesin yang tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Manusia sedang menjadi objek pesakitan di tengah perkembangan digitalisasi dan otomasi yang masif ini.

Sekali lagi menjadi hal yang menyedihkan bahwa tragedi jatuhnya pesawat terulang kembali. Disayangkan pula kita tidak memperoleh informasi yang komprehensif terkait tragedi kecelakaan pesawat. Hal itu dimengerti sehubungan faktor psikologis dan ekonomis. Namun, akan menjadi sulit menjawab pertanyaan soal penyebab sebuah kecelakaan pesawat. Apakah dari mesin, sistem, atau manusia?

Antara mesin, sistem, dan manusia… kita tidak akan pernah tahu penyebabnya!