Minggu, 31 Maret 2019

Bahagia itu suatu cara pandang



Percakapan bersama teman-teman tentang hal-hal yang ditangkap oleh ingatan saat itu, mengenai peristiwa masa lalu atau yang sedang berlangsung, diselingi cerita lucu, epos, hingga cerita yang membuat dahi berkerut, dapat menyuguhkan impresi yang disebut kebahagiaan. Keindahan objek  hasil tangkapan mata seperti bunga, rumput hijau, langit biru, dan bintang di malam hari turut memperlihatkan bahwa arti kebahagiaan ditemukan sejauh mata memandang.

Kebahagiaan itu sendiri dikenal melalui cara manusia memandang ke dalam atau di luar dirinya. Ke dalam diri melalui waktu permenungan dan di luar diri melalui interaksi sosialnya. Artinya, kebahagiaan dinilai dekat atau tidak dengan hidup manusia itu ditentukan oleh cara manusia melihat diri dan lingkungannya. Kebahagiaan terlihat dan terasa dekat namun juga tidak terlihat dan terkesan jauh, dapat dilihat dan disentuh namun juga tidak dapat terlihat dan disentuh. Itu semua dipengaruhi perspektif manusia terhadap dunianya.

Suatu kali saya menghadiri acara pernikahan seorang teman ‘seperjuangan’. Selayaknya teman dekat, saya hadir di acara tersebut. Namun bukan sekedar nilai pertemanan saya hadir melainkan tindakannya dalam mempersiapkan dan membagikan undangan ke setiap rekan-rekan di tempat kerjanya. Undangan itu terkesan istimewa karena berbentuk undangan pribadi, dicetak dengan nama masing-masing rekannya, dan diletakkan di setiap meja mereka. Bukankah itu sudah seharusnya demikian? Ya, dan saya menemukan momen sederhana itu yang menunjukkan kebahagiaan tersendiri.

Melihat kebahagiaan dari rinci peristiwa yang sedang berlangsung, bukanlah hal mudah untuk disadari dan diingat. Keberadaannya seringkali sulit disadari dan terlupakan oleh keseharian manusia. Lalu bagaimana menemukan kebahagiaan dalam keseharian kita? Ada beberapa perspektif kebahagiaan yang setidaknya ditemukan dalam keseharian kita.

Pertama, kebahagiaan dirasakan tatkala kita memperhatikan bahwa perlunya menjaga kesehatan, memperhatikan pola makan, mengolah tubuh agar memiliki tubuh yang segar dan bugar. Memperhatikan kulit wajah agar terlihat berseri, mengobati luka akibat tergores oleh benda tajam dan sembuh darinya, minum vitamin pembangkit stamina dan aktif berolah raga, dan kegiatan yang berkenaan dengan fisik lainnya. Itu adalah kebahagiaan yang pertama yang dapat kita pikirkan, lihat, dan perhatikan dan kebahagiaan ini disebut kebahagiaan fisik.

Kedua, kebahagiaan di saat kita sedang membaca suatu buku dan menyelesaikannya. Membaca membawa kita mendapati pengetahuan atau pemahaman tentang dunia dan realita di dalamnya. Membaca membawa manusia memperoleh tingkat kebahagiaan karena mengetahui hal-hal yang hanya dapat diperoleh dari bahan bacaan. Begitupula dengan menulis, ia turut membawa manusia dalam kebahagiaan karena menuangkan konsep pemikiran terdalam yang terkadang sulit tersampaikan secara verbal. Kebahagiaan kedua ini disebut kebahagiaan intelektual.

Ketiga, kebahagiaan melihat dekorasi yang menarik di mall, rumah, atau jalanan yang tertata indah, cahaya warna-warni di jalan saat sedang menuju tempat tujuan, melihat pemandangan gunung yang dikelilingi perkebunan teh, sungai jernih yang mengalir tenang di dalam hutan, pantai berpasir putih ditemani ombak laut menggulung teratur, dan sebagainya. Kebahagiaan ini disebut kebahagiaan estetik.

Keempat, kebahagiaan dalam memberikan sesuatu kepada seorang yang membutuhkan, memberi senyum kepada orang lain tatkala tiada menerima balas, memotivasi seorang yang membutuhkan penguatan mental di tengah persoalan yang dihadapinya, membantu seorang menyeberang jalan, dan sebagainya. Kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan moral.

Kelima, kebahagiaan menyadari bahwa Tuhan mengasihi manusia tanpa menuntut balas, memahami hidup adalah pemberianNya yang patut disyukuri, dan meyakini bahwa kehidupan kita di dunia memiliki tujuan memuliakan Dia, Sang Pencipta. Sebenarnya kebahagiaan ini yang harus menjadi pusat dari segala bentuk kebahagiaan. Relasi manusia dan Sang Pencipta sejatinya adalah kebahagiaan sesungguhnya, karena manusia memiliki kemampuan dariNya untuk memaknai hidup karena tanpa pemaknaan hidup, segalanya terlihat tidak berguna. Segala yang tidak bermakna dan berguna bukanlah arah menuju kebahagiaan. Hubungan yang terbangun antara Tuhan sebagai Sang Pencipta segala yang ada, atau dikatakan berada, dengan manusia sebagai salah satu ciptaanNya, bahkan dapat dikatakan, puncak dari ciptaanNya memberi kebahagiaan mengalir ke dalam ruang kosong manusia yang hanya dapat terisi oleh kebahagiaan rohani ini.

Alam pegunungan, laut luas samudera, langit biru dan sekumpulan awan, bumi mengeluarkan tunas, pohon dan buahnya mengajak alam pikir manusia mengungkapkan Tuhan yang jauh di atas sana dapat terlihat dalam jarak pandang kita. Kebahagiaan itu sederhana, ia bergantung dari bagaimana cara kita melihat dunia dan cara pandang tersebut dapat dinikmati ketika relasi kita dan Tuhan terproses dalam keseharian kita.

***

Tulisan ini tayang di kompasiana.com