Senin, 18 Maret 2019

Tragedi di Selandia Baru dan Impian "White Supremacy"

Seperti tidak pernah selesai mendengar berita tentang terorisme. Dalam kurun waktu satu tahun ini tidak kurang dari tiga peristiwa terorisme terjadi di dunia. Di awal 2018, New York Times  merilis berita tentang penembakan yang dilakukan oleh seorang pria pada sebuah sekolah di Parkland, Florida, AS.
Kemudian, di penghujung 2018, Guardian mengabarkan seorang pria menembaki orang yang berada di dekat pasar malam di Strasbourg, Perancis. Namun, yang masih segar dalam ingatan masyarakat Indonesia adalah peristiwa pemboman di Surabaya pertengahan 2018 silam yang dilakukan oleh satu keluarga, dan menambah catatan kelam sejarah Indonesia menghadapi terorisme.
Hari jumat 15 Maret 2019, alih-alih mendengar berita penyejuk jiwa nan inspiratif agar menjadi pribadi baik dalam keseharian, malah tersentak melihat video kiriman teman yang berisi aksi teror yang dilakukan secara sadar dan didokumentasikan secara live oleh seorang pria bernama Brentont Tarrant. Ia telah melakukan penembakan berdarah di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di kota Christchurch sesaat sebelum jemaat menunaikan salat jumat.
Dari laporan dan penyelidikan polisi ditemukan motif di balik penyerangan tersebut, yakni ras. Dipahami kemudian, isu ras etno-nasionalisme menjadi latar belakang Brentont melakukan aksinya. Ia menganggap warga kulit putih sebagai penduduk strata atas yang sejatinya memegang kuasa tertinggi (supremasi) atas tanah, pekerjaan, dan lingkup sosial.
Sedangkan para pendatang atau imigran dianggapnya sebagai penduduk strata bawah dan merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup warga kulit putih.
Di Indonesia, isu ras tidak berdampak secara signifikan bagi masyarakat yang mengerti adanya perbedaan budaya, bahasa, dan warna kulit di wilayah nusantara ini. Namun, dampak signifikan dapat saja terjadi ketika peristiwa Selandia Baru dipolitisasi oleh sekelompok orang dengan tujuan politis semata.
D tengah perhelatan pilpres 2019 ini, suasana politik diketahui sedang memasuki titik didih. Peristiwa yang terjadi di saat-saat ini menjadi bahan krusial untuk menjaring suara dalam kontestasi ini.
Peristiwa Selandia Baru bagai alat pemantik di sebuah kilang minyak, yang sangat rentan untuk diledakkan. Motif yang diketahui sebagai ‘white supremacy’ pada peristiwa Selandia Baru dapat berubah menjadi isu agama yang merusak pluralisme bangsa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa Selandia Baru secara tidak langsung memberi peringatan kepada masyarakat Indonesia agar waspada dan memiliki semangat mempertahankan nilai-nilai pluralis ‘bhineka tunggal ika’ dengan mengedepankan ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kebijaksanaan, dan keadilan.
Memang bukan hal baru isu agama bertebaran di perpolitikan Indonesia, namun juga bukan berarti meremehkan isu tersebut di tengah tahun politik ini. Kewaspadaan dan sikap tidak acuh terhadap isu-isu yang menyulut sentimen agama adalah langkah awal menjaga ideologi bangsa yang pluralis ini.
Terorisme mungkin tidak akan pernah hilang dan menjadi cerita masa lalu belaka. Ia mungkin akan selalu ada dan menjadi bagian tak terelakkan dari suatu ideologi. Ideologi yang tidak akan pernah menjadi kesepakatan bersama karena dibangun dari perjuangan sekelompok orang untuk mengubah tatanan masyarakat, apalagi diperjuangkan melalui konflik berdarah.
***

Tulisan ini dimuat di pepnews.com